PURWAKARTA, borneoreview.co – Di puncak musim kemarau, permukaan air nyaris tanpa riak di Waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat. Ketinggian air turun drastis menyisakan sebagian dasar waduk yang berubah menjadi lahan sementara pertanian.
Waduk Cirata menampung air dari dua aliran sungai besar, Citarum dan Cibalagung. Kedua sungai bertemu di daerah Dermaga Jangari sebelum akhirnya tertahan di bendungan ini.
Selain menahan laju sungai sebelum masuk ke saluran irigasi warga, Waduk Cirata juga berfungsi sebagai fasilitas pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Saat musim kemarau dan debit air turun, strategi cerdas menggabungkan PLTA dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Waduk Cirata terbukti mampu menjaga pasokan listrik.
Dari PLTA saja menghasilkan listrik sekitar 1.008 megawatt. Kombinasi operasional dengan PLTS menghasilkan strum 1.192 megawatt.
Sebanyak 3.400 panel surya terapung menghampar di permukaan air seluas 200 hektare. Menjadikan Waduk Cirata lokasi panel surya terapung paling luas se-Asia Tenggara.
Kombinasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pengelolaan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) bisa menjadi opsi paling layak di tengah berkurangnya pasokan air karena El Nino.
Pembangkit listrik mandiri (captive power plant) dapat mengaplikasikan metode ini, misalnya di fasilitas smelter pertambangan. Beberapa smelter nikel di Sulawesi menggunakan listrik PLTA mandiri sebagai sumber energi.
Penggunaan listrik dari PLTA dan PLTS sesuai keperluan operasional smelter. Berlaku pengaturan konsumsi listrik sehingga tidak terjadi kekurangan pasokan pada waktu beban puncak tinggi.
PLTS bisa beroperasi memasok listrik pada siang hari. Sehingga penggunaan air waduk untuk pembangkit listrik dapat lebih hemat dan hanya fokus pada malam hari.
“Salah satu yang bisa dicontoh adalah integrasi pada PLTA dan PLTS Apung Cirata. Ini menunjukkan manfaat saling melengkapi terutama saat musim kering,” kata Associate Principal Energy Shift Institute (ESI), Ahmad Zuhdi.
Dengan demikian, perencanaan pasokan energi perlu memperhitungkan kemampuan PLTA saat musim kering. PLTA dan PLTS terapung Cirata merupakan bentuk sinergi energi terbarukan yang saling melengkapi.
Integrasi dua teknologi ini memanfaatkan ruang perairan yang sama untuk menghasilkan listrik secara lebih efisien.
PLTS terapung memanfaatkan permukaan air waduk, sehingga tidak memerlukan pembebasan lahan darat sekaligus mengurangi penguapan air.
Penggabungan PLTA dan PLTS juga bisa mengurangi ketergantungan pada batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Apalagi tidak ada bukti nyata bahwa operasional PLTU pada musim kemarau lebih efisien.
ESI mencatat pada sistem kelistrikan Jawa—Bali menunjukkan penurunan produksi PLTA pada musim kering, menyebabkan naiknya konsumsi gas.
Perusahaan lebih memilih gas sebagai bahan bakar PLTU ketimbang batu bara.
Peningkatan emisi dan intensitas karbon listrik akan terjadi apabila penurunan produksi PLTA tergantikan oleh PLTU batu bara.
Bagi Indonesia, tambahan emisi berpotensi memperberat pencapaian target nationally determined contribution (NDC). Meskipun satu siklus El Nino tidak serta-merta menggagalkan target tersebut.
“Risiko jangka panjang justru muncul jika kebutuhan energi sementara ini dijadikan alasan untuk memperpanjang ketergantungan pada batu bara. Ketahanan terhadap kekeringan harus diintegrasikan ke dalam strategi transisi energi agar penurunan emisi tetap berjalan konsisten di tengah perubahan cuaca,” ujar Ahmad Zuhdi.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui fenomena El Nino memicu penurunan debit air di sejumlah wilayah.
Hal itu mengganggu optimasi produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Menurut Menteri, pemerintah sedang menyiapkan pembangkit listrik lain sebagai sumber energi. Termasuk PLTU sebagai pasokan pengganti sementara.
Turunnya debit air akibat kemarau panjang, berdampak langsung pada kapasitas produksi listrik berbasis hidro.
Pada sistem kelistrikan Sulawesi bagian Selatan, daya mampu agregat pembangkit hidro merosot drastis dari 850 megawatt (MW) menjadi hanya 250 MW.
Penurunan signifikan tersebut berdampak pada operasional sejumlah unit vital, antara lain PLTA Poso, PLTA Bakaru, PLTA Malea, hingga beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM).
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo menyatakan fenomena El Nino telah menyebabkan penurunan kapasitas daya PLTA secara signifikan. Pasokan listrik dari PLTA di wilayah Sulawesi bagian Selatan berkurang hingga sekitar 650 MW.***
