JAKARTA, borneoreview.co – Debu tambang Poboya mulai mereda setelah operasi pushback rampung pada Juli 2026. Namun, bagi PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), selesainya pekerjaan itu belum otomatis menghapus persoalan dari ruang produksi hingga meja investor.
Semester I 2026 meninggalkan angka pahit. Produksi emas BRMS merosot 46 persen secara tahunan, penurunan tajam akibat operasi pushback di Poboya.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi melihat, selesainya pekerjaan tersebut membuka ruang pemulihan pada paruh kedua 2026.
“Rampungnya pushback Poboya Juli langsung relevan ke H2,” ucap Wafi.
Menurut dia, penurunan produksi pada semester pertama berkaitan erat dengan pekerjaan tersebut. Setelah operasi selesai, hambatan utama terhadap volume produksi dinilai mulai terlepas.
Produksi Mulai Bergerak
Masalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tidak berhenti pada seberapa banyak emas keluar dari tambang.
Perseroan masih menghadapi penumpukan persediaan akibat kendala penyerapan pasar, sehingga kenaikan produksi belum tentu segera berubah menjadi arus kas.
Di titik ini, emas menjadi paradoks kecil bagi perusahaan tambang. Barang berharga bisa menumpuk, tetapi kas tetap membutuhkan jalan keluar.
Wafi melihat perubahan lebih besar berpotensi muncul mulai 2027. Penambangan bijih berkadar tinggi dari CPM Palu serta rencana peningkatan kapasitas pabrik menjadi 2.000 ton per hari disebut dapat mengubah struktur ekonomi operasi.
“High-grade dan ekspansi ke 2.000 tpd adalah step change economics mulai 2027,” ujar Wafi.
Bijih berkadar emas lebih tinggi secara teori memungkinkan lebih banyak kandungan logam diproses dari volume material tertentu.
Ketika kapasitas pengolahan ikut naik, biaya produksi berpotensi lebih efisien sekaligus membuka ruang pelebaran margin.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie melihat logika tersebut cukup sederhana. Peningkatan volume pengolahan bertemu kadar emas tinggi dapat menciptakan efisiensi biaya.
“Secara logika, itu kombinasi yang dapat meningkatkan margin perusahaan,” ujar Adrian.

Tembaga Jadi Cadangan
BRMS tidak hanya menaruh cerita pertumbuhan pada emas. Perseroan menyiapkan ekspansi tembaga melalui PT Gorontalo Minerals di prospek Cabang Kiri East.
Rencananya mencakup penambahan unit pengeboran untuk memperbarui data sumber daya mineral pada semester I 2027.
Hasil eksplorasi akan menjadi penentu apakah tembaga benar-benar dapat berkembang sebagai lini bisnis baru.
“Ini relevan sebagai opsi pertumbuhan jangka menengah-panjang,” kata Adrian.
Ia menambahkan, hasil eksplorasi sesuai harapan dapat membuka peluang tembaga menjadi sumber pertumbuhan BRMS di luar emas.
Artinya, perusahaan sedang mencoba membangun kaki kedua ketika bisnis utama masih berusaha memulihkan pijakan.
Tetapi dunia tambang tidak hidup dari rencana saja. Lubang bor harus menghasilkan data, pabrik harus beroperasi, bijih harus tersedia, emas harus terserap pasar, lalu seluruh rangkaian itu harus berujung pada kas.
Utang Jadi Bayangan
Di balik prospek pemulihan produksi, ada sejumlah angka finansial patut diperhatikan investor. BRMS membawa beban utang sindikasi sebesar 278 juta dolar AS.
Arus kas operasi semester I 2026 tercatat minus 26,54 juta dolar AS. Pada periode sama, belanja modal mencapai 74,98 juta dolar AS.
Angka tersebut membuat cerita pemulihan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tidak bisa dibaca hanya dari grafik produksi. Perseroan masih membutuhkan pembiayaan, eksekusi proyek, serta penyerapan hasil produksi secara konsisten.
Risiko lain datang dari kemungkinan keterlambatan proyek pabrik baru. Setiap penundaan dapat menggeser waktu ketika peningkatan kapasitas pengolahan mulai memberikan dampak terhadap biaya dan margin.
Karena itu, pemulihan semester II 2026 lebih tepat dibaca sebagai usaha kembali dari titik rendah, bukan lahirnya mesin pertumbuhan baru.
“Menurut pandangan kami pemulihan operasional ini, bukan pertumbuhan baru,” ujar Adrian.
Menurut dia, wajar apabila kinerja BRMS pada paruh kedua 2026 berpotensi rebound setelah titik rendah pada semester pertama. Perseroan sempat mencatat rugi pada kuartal II 2026.
Investor Menunggu Bukti
Pekerjaan pushback memang telah selesai. Namun, pekerjaan berikutnya justru lebih panjang membuktikan bahwa produksi dapat naik, persediaan dapat terserap, kas dapat kembali mengalir, dan ekspansi berjalan sesuai jadwal.
Adrian menyarankan investor mengambil sikap wait and see terhadap saham BRMS. Pergerakan harga emas dunia serta kecepatan peningkatan produksi menjadi dua indikator utama untuk diamati.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) kini berada di antara dua wajah. Di satu sisi ada Poboya, bijih berkadar tinggi, pabrik 2.000 ton per hari.
Serta prospek tembaga; di sisi lain terdapat utang 278 juta dolar AS, arus kas operasi negatif, belanja modal, dan risiko proyek terlambat.
Tambang akhirnya tidak hanya berbicara tentang emas di dalam batu. Ia berbicara tentang seberapa cepat batu itu berubah menjadi produksi, produksi berubah menjadi penjualan, lalu penjualan berubah menjadi kas.
Bagi PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), semester kedua 2026 menjadi ruang pembuktian. Jika volume produksi benar-benar pulih, persoalan berikutnya tetap sama: apakah pemulihan itu cukup kuat untuk menutup lubang lama dan membangun pertumbuhan baru mulai 2027?
Pantau perkembangan produksi PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) , harga emas dunia, arus kas, ekspansi pabrik 2.000 ton per hari, serta eksplorasi tembaga sebelum menilai arah kinerja perseroan berikutnya.***
