Tambang PT Bumi Resources Minerals (BRMS) Poboya Bangkit, Investor Diminta Waspadai Utang 278 Juta Dolar

PT BRMS Tbk

JAKARTA, borneoreview.co – Debu Poboya belum sepenuhnya mengendap. Juli 2026, operasi pushback di tambang emas itu rampung. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengeklaim hambatan utama produksi telah hilang.

Namun luka semester I 2026 masih menganga. Produksi emas anjlok 46 persen secara tahunan. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cermin gelap dari keterlambatan yang menahun.

Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, membuka suara. Ia menyebut rampungnya pushback Poboya langsung relevan ke paruh kedua 2026.

“Produksi emas H1 turun 46% YoY justru karena pushback ini. Selesainya operasi berarti hambatan utama hilang,” kata Wafi.

Tapi ada ganjalan lain. Persediaan emas menumpuk akibat kendala penyerapan pasar. Volume membaik, arus kas belum tentu mengalir deras.

Wafi menyebut rencana penambangan bijih bermutu tinggi dari CPM Palu dan peningkatan kapasitas pabrik menjadi 2.000 ton per hari. Ia menyebutnya sebagai step change economics mulai 2027.

“High-grade dan ekspansi ke 2.000 tpd adalah step change economics mulai 2027,” kata Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Tingginya Kadar Emas

Adrian Djie, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, menimpali. Efisiensi biaya tetap akan terjadi seiring peningkatan volume pengolahan dan tingginya kadar emas.

“Secara logika, itu kombinasi yang dapat meningkatkan margin perusahaan,” ujar Adrian, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Di luar emas, PT Bumi Resources Minerals (BRMS) menyiapkan ekspansi tembaga melalui PT Gorontalo Minerals.

Prospek Cabang Kiri East digarap dengan menambah unit pengeboran. Data sumber daya mineral ditargetkan diperbarui pada semester I 2027.

“Ini relevan sebagai opsi pertumbuhan jangka menengah-panjang. Jika hasil eksplorasi sesuai harapan, tembaga berpotensi menjadi lini bisnis BRMS di luar emas,” kata Adrian.

Tapi jangan terlena. Ada beban utang sindikasi 278 juta dolar AS. Arus kas operasi semester I 2026 minus 26,54 juta dolar AS.

Belanja modal 74,98 juta dolar AS. Risiko keterlambatan proyek pabrik baru menghantui.

“Menurut pandangan kami pemulihan operasional ini, bukan pertumbuhan baru. Jadi wajar kalau 2H 2026 kinerja PT Bumi Resources Minerals (BRMS) rebound dari titik terendah 1H yang sempat rugi di Q2,” ucap Adrian.

Adrian menyarankan investor mengambil posisi wait and see. Pantau harga emas dunia. Cermati kecepatan peningkatan produksi.

Jangan buru-buru masuk sebelum arus kas benar-benar membaik. Poboya boleh bangkit. Tapi utang tetap mengintai. Investor wajib waspada.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *