BRASILIA, borneorview.co – Sebanyak 99 persen kebakaran hutan atau kita kenal sebagai karhutla di Amazon terjadi karena faktor kesengajaan. Pelakunya para aktor kriminal, tuan tanah atau perusahaan agraria.
Membakar hutan dan lahan adalah cara paling cepat dan murah menghancurkan vegetasi. Setelah habis terbakar lahan akan dipakai untuk perkebunan kedelai, jagung, eukaliptus, padang rumput bagi peternakan sapi atau produk-produk agraria ekspor lainnya.
Membakar hutan juga strategi paling efektif untuk merusak sumber mata pencaharian masyarakat adat dan komunitas tradisi. Warga adat yang tinggal di sekitar hutan menjadi duri dalam daging bagi perusahaan agraria.
Tiga Helikopter Chinook Jepang Perkuat Pemadaman Karhutla Kalbar
Masyarakat adat yang kehilangan sumber pencaharian dengan sendirinya tergusur. Setelahnya dengan mudah perusahaan dapat menguasai lahan mereka.
Menyadari strategi culas tersebut, masyarakat adat dan komunitas tradisi di Amazon mengorganisir diri dalam jaringan Agro é Fogo. Saat kini ada lebih dari 40 organisasi di Brasil yang bergabung dalam Agro é Fogo.
Jika diterjemahkan Agro é Fogo artinya “agroindustri adalah api“. Nama yang secara tegas menjelaskan posisi mereka dalam perang melawan api di hutan Amazon.
Cegah Karhutla Meluas, ESDM Kalsel Surati 20 Lebih Perusahaan Tambang Batu Bara
Tujuan Agro é Fogo adalah mendukung inisiatif rakyat melestarikan hutan sebagai warisan tanah leluhur mereka. Sebab saat terjadi kebakaran hutan, kelompok komunitas yang terancam tidak dapat mengharap sepenuhnya pada pertolongan petugas kebakaran dari dinas pemerintah.
Kesiapan pemadam kebakaran sangat buruk. Bukan saja kurangnya personal dan peralatan, tapi juga karena banyaknya titik api dan luasnya wilayah yang menyebabkan mereka sering kewalahan.
Sebab itu hanya ada satu jalan bagi penduduk yaitu melatih dan memperlengkapi diri sendiri untuk menanggulangi kebakaran. Agro é Fogo membagikan pengetahuan menghambat laju kobaran api dengan cara membuat jalur-jalur pemisah kebakaran.
Komunitas yang tergabung dalam Agro é Fogo membangun “ACEIRO” yang diterjemahkan jalur pemisah penghambat kebakaran pada tahun 2025. Mereka mendapat bantuan dana dari donasi internasional untuk membangun sarana ini.
Konsep ACEIRO memperkuat rasa tanggung jawab sekaligus memperlengkapi tim penanggulangan kebakaran setempat. Metode ini juga mempraktikan cara-cara tradisional dalam memadamkan api.
Karhutla di Melawi Jadi Perhatian, Pemda Dorong Perusahaan Perkuat Pencegahan
Agro é Fogo juga membagi pengalaman-pengalaman penting kepada masyarakat tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebakaran. Mereka menerbitkan buku pedoman pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan di Cerrado.
Melawan Hari Api
Agro é Fogo berdiri tahun 2020 sebagai reaksi dari kejadian “Hari Api“ yang terkenal di Brasil. Pada tahun 2019, tuan tanah dan penghuni lahan liar yang sama-sama kriminal bekerja sama di negara bagian Pará untuk membakar sebagian besar wilayah timur Amazon.
Mereka punya rencana menjalankan politik perusakan hutan dan mengusir penduduk adat yang hidup di sana. Rencana jahat mereka mendapat dukungan dari mantan Presiden ekstrem kanan Brasil, Jair Bolsonaro.
Di bawah kepemimpinan Presiden Brasil, Lula da Silva, perlindungan hutan hujan dan HAM meskipun menjadi tema besar, tetap lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi dan ekspor.
Dengan demikian kejadian pembakar menyulut api di hutan terus terjadi dari tahun ke tahun. Sebab di belakangnya berdiri kepentingan ekonomi dan poltik, terutama agroindustri yang sangat berkuasa.
Pemkot Pontianak Anggarkan Rp300 Juta untuk Penanganan Karhutla
Kemungkinan kebakar sangat kecil terjadi di hutan yang masih utuh atau hutan primer. Vegetasi dan udara di bawah kanopi pohon-pohon besar cenderung lembab.
Tapi bila hutan hujan atau kanopi ditebang oleh industri, lalu sebagian besar vegetasi digilas dan dirusak oleh traktor atau ditebang untuk dijadikan jalan lintas, hutan primer akan kering dan menjadi mudah terbakar.
Oleh karena itu api berkonsentrasi terutama di hutan-hutan sekunder, dimana manusia telah merubah vegetasinya. Sepertiga jumlah kebakaran terjadi di negara bagian Maranhão und Pará.
Di wilayah timur hutan hujan Amazon dan di sabana Cerrado, apa yang disebut dengan Front Agraria terus melaju. Alam diubah secara besar-besaran menjadi hantu monokultur industri dan penduduk yang hidup di sana digusur.
Adanya perjanjian perdagangan bebas Uni Eropa dengan negara-negara Mercosur di Amerika Selatan (selain Brasil juga Argentina, Paraguay dan Uruguay), menyebabkan jumlah ekspor produk agraria terus ditingkatkan. Hal ini berarti akan terus terjadi kebakaran hutan.
