ZAMBOYEAFRIKATENGAH, borneoreview.co – Tanah itu tidak berteriak. Ia hanya bergetar pelan, lalu membuka mulutnya lebar-lebar.
Bukan gempa. Bukan ledakan. Hanya gemuruh rendah yang akrab di telinga para penambang emas artisanal di Prefektur Nana-Mambere, Republik Afrika Tengah. Namun kali ini, gemuruh itu berubah menjadi lahap.
Lebih dari seratus tubuh tertelan. Terowongan-terowongan bawah tanah ambruk bersamaan. Yang tersisa hanya debu, lumpur, dan jeritan yang tak sempat menjadi kata.
Rekaman sebuah video amatir dari lokasi memperlihatkan manusia-manusia berlumuran tanah basah.
Tangan-tangan telanjang menggali reruntuhan. Tanpa alat berat. Tanpa tim penyelamat resmi yang sigap.
Mereka berteriak. Memanggil nama. Mengangkat tubuh kaku yang separuh terkubur. Sebagian korban masih bernapas. Sebagian lain sudah menjadi bagian dari tanah yang mereka gali setiap pagi.
Lokasi tambang berada sekitar 50 kilometer dari Baboua, dekat perbatasan Kamerun. Kawasan itu selama ini menjadi magnet bagi para pendulang emas ilegal.
Pemerintah menyebutnya artisanal mine, istilah halus untuk lubang maut tanpa izin, tanpa standar, tanpa belas kasihan.
Kemiskinan jadi Mandor Kejam
Menyebut tambang ini ilegal memang mudah. Kata itu singkat, rapi, terdengar selesai. Tetapi di balik setiap lubang galian, mengintip wajah yang jauh lebih rumit.
Kemiskinan. Lapangan kerja yang sempit. Anak-anak menunggu makan. Harga emas yang menggoda. Pengawasan buta sebelah.
Ekonomi lokal yang menjadikan logam kuning sebagai satu-satunya jalan cepat menuju rupiah, franc CFA, atau sekadar sepiring nasi.
Para pekerja turun ke lubang bukan karena ingin melanggar hukum. Mereka turun karena perut berbunyi lebih keras daripada akal sehat.
Mereka menukar keselamatan dengan sekantong bijih yang bisa dijual sore harinya.

Emas Diam Saja, Manusia Menjerit
Emas tidak pernah berteriak saat tertimbun. Ia tetap dingin, tetap berkilau, tetap setia pada karakternya yang bisu.
Yang menjerit adalah manusia. Yang kehilangan adalah keluarga. Yang menangis adalah ibu yang berdiri di ambang pintu, menunggu suara langkah yang tak kunjung tiba.
Setiap angka korban bukan sekadar data. Ada nama. Ada utang. Ada anak yang belum sempat diantar ke sekolah.
Ada mimpi yang ikut terkubur di kedalaman gelap. Ada pagi yang dimulai dengan lambaian tangan, lalu berakhir menjadi berita duka.
Pemerintah setempat membuka penyelidikan. Itu baik. Itu wajib. Tapi penyelidikan selalu datang setelah tanah tenang, setelah tubuh-tubuh dievakuasi, setelah tangis berubah menjadi keheningan.
Pertanyaan paling tua kembali mencuat mengapa keselamatan baru diperhatikan ketika kematian datang berombongan?
Pencegahan tidak pernah viral. Pemeriksaan terowongan tidak pernah menarik kamera. Standar keselamatan tidak pernah menjadi judul besar.
Helm, ventilasi, struktur penyangga, jalur evakuasi semua itu baru disebut setelah tubuh manusia menjadi bukti kelalaian.
Tragedi Zamboye adalah alarm keras. Bukan hanya untuk Afrika Tengah, tetapi untuk semua negeri yang membiarkan tambang rakyat berjalan tanpa pengawasan.
Tambang tidak runtuh dalam satu detik. Ia runtuh setelah bertahun-tahun dibiarkan, setelah aturan dikalahkan kebutuhan, setelah pengawasan datang terlambat, setelah keselamatan dianggap beban.
Yang runtuh bukan sekadar terowongan. Yang runtuh adalah tata kelola, kemanusiaan, dan akal sehat yang seharusnya menempatkan nyawa di atas logam.
Harga Emas, Harga Nyawa
Di pasar dunia, emas punya harga. Per ons. Per gram. Dicatat rapi dalam indeks komoditas.
Namun tidak ada bursa yang mencatat harga seorang ayah yang mati demi sejumput bijih.
Tidak ada grafik untuk seorang suami yang tak kembali. Tidak ada indeks untuk air mata seorang ibu yang kehilangan anaknya di dasar lubang.
Zamboye seharusnya menjadi titik balik. Bukan sekadar berita duka. Tapi pengingat keras.
Bahwa selama keselamatan pekerja dianggap lebih murah daripada emas, tanah akan terus menagih nyawa. Dunia akan terus menghitung korban, bukan mencegah mereka.(amk)***
