Solidaritas Kalimantan Barat Menyala di Pasar Sungai Duri

Bantuan

SUNGAI DURI, borneoreview.co – Malam itu, langit Pasar Sungai Duri berwarna oranye pekat. Api menjilat atap seng, menelan kios demi kios di Pasar Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya, Bengkayang Kalimantan Barat.

Bau hangus bercampur dengan teriakan panik, sementara warga berlarian menyelamatkan sisa barang dagangan.

Di tengah kepanikan, seorang ibu hanya sempat menggenggam tangan anaknya, meninggalkan segala harta benda yang kini menjadi abu.

Keesokan harinya, suasana pasar berubah menjadi puing hitam. Di antara sisa arang, hadir rombongan dari Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Barat.

Mereka membawa harapan dalam bentuk logistik darurat. Kepala Desa Sungai Duri menyambut dengan mata berkaca, menerima bantuan yang segera didistribusikan kepada warga terdampak.

“Adapun dukungan logistik mencakup 39 paket permakanan, 39 paket sandang, 119 kasur, 39 tenda gulung, serta 60 dus mie instan,” ujar perwakilan Dinas Sosial dalam keterangan resmi.

Angka-angka itu bukan sekadar data, melainkan simbol kepedulian yang nyata. Kasur lipat menjadi alas tidur baru bagi keluarga yang kehilangan rumah, mie instan menjadi pengganjal lapar di tengah ketidakpastian.

Adegan penyerahan bantuan itu seperti potongan film dokumenter tentang solidaritas.

Warga berbaris rapi, wajah mereka memancarkan kelelahan sekaligus rasa lega. Seorang bapak paruh baya, pedagang sayur, berkata lirih, “Kami tidak tahu harus mulai dari mana. Bantuan ini membuat kami merasa tidak sendirian.”

Di balik logistik, tersimpan filosofi tanggap darurat hadir cepat, tepat, dan menyentuh kebutuhan paling mendasar.

Pemerintah provinsi tidak sekadar menyalurkan barang, tetapi menyalurkan rasa aman.

Dalam masa darurat, kasur dan tenda gulung bukan sekadar benda, melainkan ruang untuk memulihkan martabat manusia.

Sinergi antara pemerintah provinsi dan desa menjadi kunci. Kepala Desa Sungai Duri menegaskan bahwa distribusi dilakukan merata, tanpa pandang bulu.

“Semua korban berhak menerima, karena semua merasakan luka yang sama,” ucapnya. Kalimat itu menegaskan prinsip keadilan sosial dalam praktik nyata.

Kebakaran pasar bukan sekadar kehilangan fisik, melainkan kehilangan ruang sosial.

Pasar adalah nadi ekonomi desa, tempat warga bertemu, bercengkerama, dan membangun kehidupan.

Ketika pasar terbakar, bukan hanya kios yang hilang, tetapi juga interaksi manusia. Bantuan darurat menjadi jembatan untuk menjaga agar denyut sosial tidak terhenti.

Dalam perspektif, tragedi ini memperlihatkan betapa rapuhnya kehidupan sehari-hari.

Namun, di balik rapuh itu, solidaritas tumbuh. Pemerintah hadir, masyarakat saling menguatkan, dan harapan perlahan kembali.

Bantuan Tanggap Cepat

Bantuan darurat bukan akhir, melainkan awal dari proses panjang pemulihan sosial ekonomi.

Kebakaran Pasar Sungai Duri menjadi pengingat bahwa bencana bisa datang kapan saja.

Namun, lebih penting dari itu, ia menjadi bukti bahwa kepedulian bisa hadir secepat cahaya.

Pemerintah Kalbar melalui Dinas Sosial telah menegaskan komitmen tidak membiarkan warganya berjalan sendiri dalam gelap.

Kini, di atas puing pasar, warga mulai menata langkah. Kasur lipat menjadi alas tidur, mie instan menjadi santapan sederhana, dan tenda gulung menjadi atap sementara.

Semua itu adalah simbol bahwa kehidupan, meski sempat runtuh, tetap bisa dibangun kembali.

Solidaritas adalah api lain, api yang tidak membakar, melainkan menghangatkan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *