Harga Batu Bara Naik, Akibat Kekeringan di Sungai Kapuas dan Mahakam?

Kapal tongkang pengangkut batu bara kandas di Sungai Kapuas.

JAKARTA, borneoreview.co – Harga batu bara di pasar global naik hingga US$150 per ton, di tengah gangguan logistik akibat kekeringan yang menyebabkan surutnya Sungai Kapuas dan Mahakam. Aliran sungai menjadi urat nadi angkutan batu bara di Kalimantan.

Tingkat curah hujan turun drastis selama kemarau ekstrem tahun ini, menyebabkan surutnya permukaan Sungai Kapuas.

Di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, hamparan pasir dasar Sungai Kapuas terlihat di permukaan. Situasi itu mengganggu distribusi barang dan cadangan air bersih untuk warga.

Krisis Air dan Kekeringan, Ribuan Ikan Sapu-Sapu Mati di Pati

Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di Indonesia yang mengalir lebih dari 1.000 kilometer. Sungai ini menjadi salah satu jalur transportasi penting yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan kawasan pesisir Kalimantan Barat.

Persoalan serupa juga terjadi di Sungai Mahakam. Surutnya permukaan Sungai Mahakam menyulitkan pelayaran barang dan penumpang, serta memicu masuknya air laut ke sungai di Samarinda.

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menilai kenaikan harga batu bara di pasar global tidak hanya dipengaruhi kendala logistik di Indonesia.

Warga Terdampak Kekeringan, Murung Raya Dirikan Posko Air Bersih

Menurut Direktur Eksekutif APBI, Gita Mahyarani kenaikan harga batu bara dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama dinamika permintaan dan pasokan.

“Soal harga batu bara, pergerakannya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Terutama dinamika permintaan dan pasokan global,” kata Gita.

Kendala pengiriman akibat surutnya Sungai Kapuas dan Mahakam bisa jadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga batu bara. “Kondisi logistik di Indonesia dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Tapi bukan satu-satunya faktor penentu kenaikan harga,” ujarnya.

Batu Bara Dominasi Pasar Ekspor, Tapi Lemah Tetapkan Harga

Kekeringan dan penurunan permukaan sungai di Kalimantan membuat kapal tongkang tidak dapat beroperasi secara optimal. Sehingga stok batu bara berpotensi menumpuk di area tambang maupun stockpile pelabuhan.

Menurut Gita, kondisi sungai yang semakin dangkal membatasi draft kapal tongkang. Akibatnya, muatan batu bara yang dapat diangkut dalam satu perjalanan menjadi tidak maksimal.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan distribusi batu bara terganggu karena surutnya sungai-sungai di Kalimantan. Sungai yang mengering juga disebut sebagai salah satu penyebab kelangkaan BBM di wilayah ini karena kesulitan pendistribusian.

Proyek Strategis Nasional Gasifikasi Batu Bara Buka Hilirisasi di Kutai Timur

“Di Kalimantan ini banyak terjadi. Saat ini, sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala untuk proses pengiriman BBM,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI.

Mengatasi masalah itu, Kementerian ESDM memperbanyak pengiriman BBM menggunakan truk melalui jalur darat. Meskipun, kapasitas angkutan darat lebih kecil dibandingkan angkutan melalui sungai.

2 thoughts on “Harga Batu Bara Naik, Akibat Kekeringan di Sungai Kapuas dan Mahakam?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *