JAKARTA, borneoreview.co – Otoritas Pelabuhan Samarinda menginstruksikan perusahaan dan pemilik tongkang pengangkut batu bara mengurangi kapasitas muatan, sebagai dampak kekeringan sungai Barito dan Mahakam. Berpotensi menambah biaya angkut dan efisiensi waktu tempuh.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda memutuskan mengurangi kapasitas tongkang batu bara menjadi 5.500–6.000 ton. Sebelum debit Sungai Barito dan Mahakam menyusut tongkang boleh mengangkut batu bara hingga 7.000 ton.
Kondisi sungai yang dangkal dapat membahayakan pelayaran kapal tongkang. Kebijakan ini menyesuaikan muatan kapal dengan kondisi perairan untuk menjaga keselamatan dan kelancaran aktivitas pelayaran.
Harga Batu Bara Naik, Akibat Kekeringan di Sungai Kapuas dan Mahakam?
Kekeringan paling parah terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Di Muara Teweh, Kalimantan Tengah, muka air berada 12 persen dari batas bawah kisaran normal.
Meski begitu kondisi kedalaman Sungai Barito beragam di beberapa wilayah. Di kawasan hilir Kalahien tinggi permukaan air relatif tidak terdampak sehingga alur utama sungai masih bisa dilayari.
Sungai Mahakam di Kalimantan Timur yang menjadi jalur utama tongkang batu bara, menunjukkan penyusutan permukaan air setera dengan Sungai Barito.
Di Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, tongkang batu bara menghentikan operasi akibat muka air rendah. Satu tongkang dilaporkan terdampar dekat Kabupaten Sekadau selama hampir tiga bulan.
Dermaga Samarinda Jaga Muatan Kapal Antisipasi Insiden Karam
Pada ruas Sungai Barito yang terdampak, tongkang batu bara berkapasitas terpasang sekitar 7.500 mt saat ini hanya boleh memuat setengahnya atau sekitar 3.500 mt.
Dampaknya, sekalipun batu bara sudah dinyatakan lolos ekspor dan dikirim ke tepi sungai, jeda perjalanan memindahkannya ke terminal ekspor dua kali lipat lebih lama dibanding saat normal.

One thought on “Kapasitas Tongkang Batu Bara Dikurangi Akibat Kekeringan di Barito dan Mahakam ”