Volume Produksi Turun, PNBP Batu Bara Malah Naik

Harga batu bara naik.

JAKARTA, borneoreview.co – Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor batu bara meningkat di tengah volume produksi yang menyusut. Berpotensi mengganggu ketersediaan batu bara untuk energi listrik.

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), produksi batu bara sepanjang 2025 mencapai 817 juta ton atau rata-rata 68 juta ton per bulan.

Produksi batu bara hingga Juli 2026 tercatat sekitar 432 juta ton. Rata-rata produksi dalam tujuh bulan pertama tahun ini berada di kisaran 60 juta ton per bulan.

Kapasitas Tongkang Batu Bara Dikurangi Akibat Kekeringan di Barito dan Mahakam 

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno mengatakan berdasarkan data tersebut, terjadi penurunan produksi batu bara sekitar 8 juta ton setiap bulan.

Penurunan tersebut disebabkan kebijakan pemerintah yang membatasi produksi batu bara nasional. Tapi yang menarik, penurunan volume tersebut tidak berbanding lurus dengan penurunan penerimaan negara.

PNBP Naik

Penerimaan Negara Bukan Pajak subsektor minerba, hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp108 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar Rp87 triliun.

Dalam kurun waktu yang sama, PNBP minerba meningkat sekitar Rp21 triliun. Khusus batu bara, PNBP hingga 31 Agustus 2025 tercatat sebesar Rp59 triliun. Pada periode yang sama tahun 2026, realisasinya meningkat menjadi Rp66 triliun.

Batu Bara Dominasi Pasar Ekspor, Tapi Lemah Tetapkan Harga

“Jadi secara produksi kita secara bulanan turun 8 juta ton, tapi secara PNBP kita naik Rp7 triliun,” ujar Tri.

Kenaikan PNBP tersebut tidak terlepas dari peningkatan harga sejumlah komoditas. “Apabila kita lihat di Agustus sekarang, itu angkanya PNBP kita Rp108 triliun, artinya ada perbedaan sekitar Rp21 triliun meningkat. Ini diakibatkan apa? Karena (harga) beberapa komoditas itu mengalami kenaikan.”

Tak Sekadar Mengejar Volume

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal mengataka, kenaikan PNBP di tengah penurunan produksi terutama disebabkan oleh kenaikan harga batu bara.

Rata-rata harga batu bara pada 2025 berada di kisaran US$110 per ton. Sementara itu, rata-rata harga hingga September 2026 berada di atas US$130 per ton.

Sehingga ada selisih harga sekitar US$25 per ton antara rata-rata 2025 dan 2026. “Kalau melihat trennya ini kenaikan PNBP di tengah penurunan batu bara disebabkan karena harga yang naik,” kata Faisal.

Proyek Strategis Nasional Gasifikasi Batu Bara Buka Hilirisasi di Kutai Timur

Kenaikan harga tersebut cukup signifikan membuat nilai penerimaan negara tetap meningkat meskipun volume produksi menurun. Negara saat ini memperoleh penerimaan yang lebih besar dari volume produksi yang lebih rendah karena nilai komoditas yang dijual meningkat.

Kondisi tersebut sekilas sejalan dengan konsep high value, low volume. Pemerintah tidak harus terus mendorong produksi setinggi mungkin apabila nilai yang diperoleh dari setiap ton batu bara tetap tinggi.

Sebagai catatan, kenaikan nilai tersebut belum tentu sepenuhnya berasal dari perubahan struktural dalam industri batu bara. Faktor eksternal berupa harga komoditas global masih menjadi penentu utama.

Jika harga batu bara kembali turun, peningkatan PNBP yang saat ini terjadi berpotensi ikut terkoreksi. Selama produksi terus menurun sementara harga meningkat, tren PNBP masih berpeluang positif.

“Kalau produksinya terus menurun sementara harganya naik, ini trennya dari sisi PNBP tetap akan meningkat,” ujar Faisal.

Di tengah peluang mendapatkan PNBP lebih tinggi dari volume produksi yang lebih rendah, strategi tersebut menyimpan persoalan di pasar domestik.

Harga batu bara internasional yang terlalu tinggi dapat menjadi tantangan bagi pemenuhan domestic market obligation (DMO), terutama untuk kebutuhan pembangkit listrik PLN.

Saat ini terdapat kesenjangan yang cukup besar antara harga batu bara untuk kebutuhan domestik dan harga di pasar internasional. Harga DMO berada di kisaran US$70 per ton, sedangkan harga internasional telah mencapai US$140–US$148 per ton.

Debu Hitam di Udara: Ironi Manis Batu Bara bagi Bumi Etam

Dengan demikian, harga pasar internasional dapat mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan harga DMO. “Ini jadi tantangan tersendiri untuk pemenuhan DMO batu bara listrik PLN.”

Jika persoalan distribusi tidak dikendalikan dengan baik, kesenjangan harga tersebut dapat memengaruhi keputusan pelaku usaha dalam menyalurkan batu bara untuk kebutuhan domestik.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa penurunan volume produksi tidak mengganggu pasokan energi domestik. Terlebih, batu bara masih menjadi salah satu sumber energi utama dalam sistem kelistrikan nasional.

 

2 thoughts on “Volume Produksi Turun, PNBP Batu Bara Malah Naik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *