Jejak Berdarah Jalur Kereta Batu Bara di Bayah

Pekerja romusa membangun jalur kereta api.

BAYAH, borneoreview.co – Nyaris terhapus dari sejarah bahwa di Bayah, Banten pernah beroperasi penambangan batu bara. Memasok kebutuhan bahan bakar bagi pasukan Jepang selama perang di Indonesia.

Meski berhasil menduduki sebagian Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, Jepang kesulitan mendapat pasokan batu bara dari pertambangan Ombilin, Sumatera Barat dan Bukit Asam, Sumatera Selatan. Sekutu memblokade jalur laut yang memutus pengiriman batu bara.

Untuk mengatasi krisis bahan bakar, Jepang mengupayakan pasokan batu bara dari Pulau Jawa. Tanpa perlu menyebrang lautan, pasokan bahan bakar dirasa lebih aman.

Sejarah Tambang Batu Bara Berawal dari Kalsel, Ini Kronologinya

Pemerintah kolonial Belanda sebenarnya sudah mengetahui potensi tambang batu bara di Bayah sejak tahun 1903. Tapi eksploitasi besar-besaran baru dilakukan oleh Jepang pada awal 1943.

Masalahnya saat itu belum tersedia jalur kereta untuk mengangkut batu bara dari pedalaman Bayah ke jalur rel utama di Seketi, Pandeglang. Dari Seketi rencananya batu bara akan diangkut menuju Rangkasbitung dan Jakarta.

Tahun 1943-1944 Jepang mendatangkan 60.000 romusa dari Purworejo, Kutoarjo, Purwodadi, Semarang, dan Yogyakarta untuk memulai pembangunan jalur kereta. Lebih dari 20.000 orang tewas karena kelaparan dan kelelahan.

Kini jejak penambangan batu bara di Bayah yang masih tersisa, hanya berupa pondasi dan tembok bekas tiang jembatan kereta api.

Darah Tambang Kapuas, Bara Tanah Adat Tuntut Suara Negara

Jalur kereta batu bara Seketi-Bayah sepanjang 89 kilometer memiliki sembilan stasiun dan lima halte. Rute dimulai dari Saketi hingga ujung jalur Gunung Madur yang berada dekat dari Pantai Wisata Pulo Manuk.

Lokasi batu bara di Bayah memiliki 3 blok penambangan: Blok Madur, Blok Cihara dan Blok Cimang. Dari Pulo Manuk dibuat jalur kereta stingkul, lori kecil pengangkut batubara dari lubang-lubang penambangan.

Menggunakan stingkul batubara dilansir ke stasiun Pulo Manuk, kemudian dipindahkan ke kereta pengangkut menuju Bayah. Dari situ perjalanan diteruskan dengan kereta api menuju Malingping, Saketi, Rangkasbitung, hingga Jakarta.

Apa Itu Bukit Asam? dari Lubang Tambang Berusia Seabad Hingga Klaim Janji Hijau

Jalur kereta pengangkut batu bara dari Bayah hanya sempat beroperasi dalam waktu singkat di pengujung pendudukan Jepang, hingga masa-masa awal kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1951 jalur kereta ditutup karena kondisi infrastruktur rusak parah. Biaya perawatan yang mahal dan situasi keamanan masa revolusi fisik, tidak memungkinkan pemerintah yang masih muda mempertahankan jalur kereta ini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *