MELAWI, borneoreview.co – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat terus menjadi perhatian serius. Kabupaten Melawi kini masuk dalam daftar wilayah yang menjadi sasaran pemantauan dan patroli udara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat menyusul kondisi kabut asap dan penurunan jarak pandang di sejumlah daerah.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 20–21 Agustus 2026, jarak pandang di Kabupaten Melawi masih berada pada kisaran 1 hingga 5 kilometer. Kondisi tersebut menunjukkan adanya pengaruh kabut asap, meski belum masuk kategori ekstrem.
Data BMKG mencatat jarak pandang di Melawi didominasi pada rentang 1–5 kilometer sepanjang periode pengamatan. Sempat membaik pada sekitar pukul 20.00 WIB dengan jarak pandang lebih dari 5 kilometer, kondisi tersebut kembali turun ke kisaran 1–5 kilometer.
Koordinator Harian Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Kalimantan Barat, Daniel, SE., S.Pd., mengatakan perkembangan jarak pandang menjadi salah satu indikator penting dalam memantau potensi dampak Karhutla.
“Untuk wilayah Melawi, berdasarkan pemantauan yang kami terima, jarak pandang masih berada pada kisaran 1 sampai 5 kilometer. Kondisi ini tetap kami pantau karena perkembangan cuaca dan kabut asap dapat berubah sewaktu-waktu,” ujar Daniel, Jumat (21/8/2026).
Melawi Belum Mengalami Jarak Pandang Ekstrem
Meski menjadi wilayah yang mendapat perhatian, Kabupaten Melawi belum tercatat mengalami jarak pandang di bawah 1 kilometer selama periode pemantauan tersebut.
Kondisi lebih buruk terjadi di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya. Dua wilayah itu sempat mengalami jarak pandang kurang dari 1 kilometer akibat kabut asap, masing-masing sekitar 0,5 kilometer di Ketapang dan 0,7 kilometer di Kubu Raya.
Namun, BPBD Kalbar menegaskan kondisi Melawi yang masih relatif lebih baik tidak berarti ancaman telah berakhir. Pemantauan titik panas, perubahan cuaca, serta kondisi lapangan tetap dilakukan sebagai langkah antisipasi.
“Meskipun di Melawi belum tercatat jarak pandang di bawah satu kilometer pada data ini, kewaspadaan tetap harus dijaga. Pemantauan titik panas dan kondisi wilayah tetap dilakukan sebagai langkah deteksi dini,” tegas Daniel.
Melawi Masuk Rencana Patroli Udara Satgas BPBD
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, Melawi masuk dalam rencana operasi patroli udara Satgas Udara BPBD Kalimantan Barat.
Selain Melawi, patroli udara juga menyasar sejumlah wilayah lain yang memiliki potensi ancaman Karhutla, seperti Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Kota Singkawang, Sambas, Landak, Sanggau, dan Sekadau.
Patroli udara dilakukan untuk mendapatkan gambaran kondisi wilayah secara lebih luas, termasuk mendeteksi indikasi kebakaran hutan dan lahan yang membutuhkan penanganan cepat.
“Patroli udara menjadi bagian dari upaya untuk mendapatkan gambaran kondisi wilayah secara lebih luas. Apabila ditemukan indikasi kebakaran, informasi tersebut dapat segera ditindaklanjuti oleh tim di lapangan,” ungkap Daniel.
Jarak Pandang Berkaitan dengan Keselamatan Operasi
Menurut Daniel, pemantauan jarak pandang tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan keselamatan operasi, terutama apabila penanganan Karhutla membutuhkan dukungan udara.
“Kondisi jarak pandang sangat penting untuk keselamatan dan kelancaran kegiatan di lapangan. Karena itu, setiap perkembangan cuaca, kabut asap dan kondisi wilayah terus kami koordinasikan dengan pihak terkait,” jelasnya.
BPBD Kalbar menilai pencegahan Karhutla harus dilakukan melalui kombinasi pemantauan udara, deteksi dini dari lapangan, serta respons cepat apabila ditemukan titik api.
“Prinsipnya adalah deteksi dini dan respons cepat. Kalau ditemukan indikasi kebakaran, tentu harus segera ditindaklanjuti agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” katanya.
Warga Diminta Tidak Membakar Lahan
Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap Karhutla, masyarakat Kabupaten Melawi diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan secara terbuka.
Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api, kepulan asap tebal, maupun tanda-tanda kebakaran lahan agar dapat segera ditangani petugas.
Kondisi jarak pandang Melawi yang masih berada pada kisaran 1–5 kilometer memang belum menunjukkan situasi ekstrem. Namun, ancaman Karhutla di Kalimantan Barat masih membutuhkan perhatian bersama.
Dengan potensi perubahan cuaca, munculnya titik panas, serta risiko kebakaran yang dapat meluas dengan cepat, pemantauan berkelanjutan dan kesiapsiagaan seluruh pihak menjadi kunci untuk menjaga wilayah tetap aman dari dampak Karhutla.***
