PONTIANAK, borneoreview.co – kabut asap pekat yang menyelimuti Kota Pontianak tak hanya mengancam kesehatan warga, tetapi juga perlahan mengikis denyut ekonomi di meja-meja warkop. Di Warkop Denny’s Kopi Tiam Jalan Hijaz keriuhan pagi yang biasanya memadati salah satu sudut favorit ngopi warga ini mendadak surut.
Dampak lesunya aktivitas luar ruangan ini dirasakan langsung oleh Usman (42) juru parkir yang saban hari menggantungkan hidup dari riuhnya kendaraan pengunjung warkop. Ia menyebut penurunan jumlah pelanggan terjadi sangat drastis sejak udara mulai beraroma sangit kayu terbakar.
“Kalau pengunjung, sejak kabut asap ini mulai menurun mas. Padahal sebelumnya kalau akhir pekan seperti Jumat, Sabtu, dan Minggu, untuk mendapatkan uang bersih Rp100 ribu di jam 8 sampai 9 pagi itu sudah bisa kantongi. Sekarang susah sekali apalagi kalau hari Jumat ada kantor yang terapkan Work From Home (WFH), parkiran makin sepi,” keluh Usman sambil menyapu pandangan ke deretan lahan parkir, Jumat (21/8/2026).
Sepinya pengunjung di pelataran parkir selaras dengan suasana di meja seduh. Eko (26), barista Warkop Denny’s Kopi Tiam, mengaku ritme kerjanya ikut berubah seiring pekatnya udara di luar.
“Mata sering perih pas menyeduh apalagi kami disini menyeduhnya di ruangan terbuka. Biasanya pelanggan betah nongkrong berjam-jam sekarang dominan minta dibungkus (takeaway) atau cepat-cepat pulang begitu kopinya habis. Pesanan es kopi juga agak turun orang-orang lebih banyak minta teh manis hangat atau air putih buat penawar tenggorokan gatal,” ungkap Eko.
Meski risiko kesehatan membayangi, beberapa pelanggan setia tetap nekat datang demi menjaga rutinitas Rian (29) seorang pekerja swasta yang tampak duduk menyendiri di sudut warkop dengan masker diturunkan ke dagu mengaku serba salah dengan kondisi ini.
“Sebenarnya khawatir juga keluar rumah dengan udara abu-abu begini. Tapi kalau tidak ngopi pagi rasanya ada yang kurang buat mulai kerja Jadi disiasati saja, di jalan tetap pakai masker, pas minum baru dibuka sebentar hanya saja nongkrongnya tidak bisa lama-lama seperti biasa,” tutur Rian.
Krisis kabut asap di Pontianak pada akhirnya bukan sekadar tentang grafik Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Di balik tebalnya asap Jalan Hijaz ada piring nasi para pekerja jalanan dan pengelola warkop yang terancam ikut redup jika udara bersih tak kunjung kembali.***
