Malaysia Perpanjang Masa Operasional Pembangkit Listrik Batu Bara

Malaysia menunda transisi PLTU batu bara ke energi terbarukan.

KUALA LUMPUR, borneoreview.co – Malaysia akan memperpanjang masa operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.

Pemerintah meninjau ulang kebijakan menghentikan operasional PLTU batu bara, seiring perkembangan gangguan pasokan bahan bakar global.

Menurut Wakil Perdana Menteri Datuk Seri Fadillah Yusof, pemerintah tengah mempertimbangkan berbagai skenario untuk memastikan kapasitas pembangkit listrik tetap memadai.

Meski begitu, Fadillah yang juga merangkap Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air menegaskan, perubahan kebijakan ini tidak menyetujui pembangunan baru PLTU batu bara.

“Kami sedang meninjau segala kemungkinan,” ujarnya di sela Singapore International Energy Week. “Pada akhirnya, kami harus memastikan ketersediaan listrik tetap terjaga.”

Konflik Timur Tengah

Peninjauan kembali ini terjadi di tengah konflik Timur Tengah yang mengganggu ekspor gas alam cair (LNG) dan memutus aliran minyak mentah.

Situasi ini memicu kekhawatiran mengenai ketahanan energi di seluruh Asia. Di sisi lain, Malaysia menghadapi meningkatnya permintaan listrik, mendukung ambisi negara tersebut menjadi pusat data (data center) utama.

Sebelumnya pemerintah Malaysia menargetkan menutup seluruh PLTU batu bara pada tahun 2044. Malaysia berupaya memperluas penggunaan energi terbarukan.

Mereka menetapkan target meningkatkan porsi energi bersih dalam bauran listrik hingga 70 persen pada tahun 2050.

Fadillah menambahkan, jika PLTU batu bara tetap beroperasi melampaui target penutupan, Malaysia mempertimbangkan menggunakan bahan bakar campuran (co-firing) dengan sumber energi lain.

Impor Minyak Afrika

Malaysia telah melakukan diversifikasi pasokan minyak dan gas sejak konflik Timur Tengah memanas. Termasuk mengimpor minyak mentah dari Afrika.

Perpanjangan masa operasional PLTU batu bara ini menyoroti tantangan menyeimbangkan transisi energi Malaysia dengan kebutuhan pasokan listrik.

Global Energy Monitor menyebut Malaysia saar ini memiliki sekitar 8 PLTU batu bara komersial. Total kapasitas listrik terpasang sekitar 13,3 GW atau 32 persen hingga 44 persen dari bauran kapasitas listrik nasional.

Dua PLTU terbesar, Manjung Power Station di Perak dan Tanjung Bin Power Station di Johor, masing-masing memiliki kapasitas listrik 4.180 MW dan 3.100 MW.

Sebagian besar pasokan batu bara untuk PLTU di Malaysia diimpor dari luar negeri. Porsi terbesar sekitar 75 persen berasal dari Indonesia.

Melalui National Energy Transition Roadmap (NETR), Malaysia berkomitmen menghentikan atau memangkas kapasitas PLTU batu bara secara bertahap. Menargetkan zero emission pada tahun 2050.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *