Mengolah Limbah Makanan, Uni Emirat Arab Bangun Fasilitas Biogas & Kompos

Ilustrasi pengolahan limbah makanan dan kemasan.

AL AIN, borneoreview.co – Uni Emirat Arab membangun fasilitas pengolahan limbah makanan dan kemasan menjadi biogas dan kompos. Salah satu negara dengan jumlah sampah per kapita terbanyak di dunia.

Emirates Biotech dan United Arab Emirates University meluncurkan proyek percontohan terintegrasi untuk mengolah limbah organik. Fasilitas ini akan memproses limbah makanan dan kemasan menjadi biogas dan pupuk organik.

Fasilitas percontohan tersebut berlokasi di dekat kampus United Arab Emirates University di Al Ain. Tempat ini akan mengolah lebih dari 40 kilogram limbah organik setiap hari.

Hasil uji coba di fasilitas pengolahan sampah ini nantinya akan menjadi dasar untuk menerapkan metode serupa di tempat-tepat yang lebih luas di UEA.

Proyek ini menjawab tantangan besar terkait limbah. Mengingat limbah makanan mencakup hampir 40 persen dari total limbah padat perkotaan harian di Uni Emirat Arab.

Sebagian besar dari limbah padat -termasuk sampah kemasan makanan yang terkontaminasi- menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA).

Para peneliti di fasilitas pengolahan limbah akan menguji apakah material-material tersebut dapat diolah kembali.

Jumlah sampah per kapita di Uni Emirat Arab (UEA) berkisar antara 1,8 hingga 2,67 kilogram per orang per hari. Hampir semua sampah tersbeut adalah sampah padat.

Teknologi pada fasilitas ini memadukan proses anaerobik dan pengomposan. Proses anaerobik menghasilkan biogas, sementara residu padat (digestate) yang tersisa menjadi kompos kaya nutrisi.

Para peneliti juga akan mengkaji kemungkinan mengubah biogas tersebut menjadi hidrogen terbarukan.

Digesti anaerobik (pencernaan anaerobik) dan pengomposan adalah dua metode biologis utama untuk mengolah sampah organik menjadi produk yang bermanfaat.

Perbedaan mendasar di antara keduanya terletak pada kehadiran oksigen, durasi proses, serta hasil produk akhir.

Digesti anaerobik fokus pada produksi biogas sementara pengomposan fokus pada hasil akhir pupuk padat stabil.

Proyek ini akan berlangsung selama dua tahun, dengan tahap instalasi dan uji coba operasional (commissioning) rampung pada Agustus 2027.

Fasilitas berskala penuh dengan jenis teknologi ini berpotensi mengurangi emisi CO₂ hingga sekitar 89 persen. Lebih ramah lingkungan dari metode pembuangan sampah organik ke TPA.

Uni Emirat Arab (UEA) menghadapi tantangan serius terkait tingginya produksi sampah per kapita. Untuk mengatasi krisis sampah dan polusi lingkungan, pemerintah memberlakukan kebijakan radikal, termasuk pengurangan sampah plastik dan limbah sejak awal 2025.

Dubai telah memberlakukan larangan besar-besaran terhadap plastik sekali pakai. Pemerintah kota melarang penggunaan sedotan, gelas, dan pengaduk minuman berbahan plastik.

Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Dubai untuk mewujudkan masa depan yang lebih ramah lingkungan. Juga mendorong gaya hidup yang lebih peduli lingkungan.

Mereka mengklaim langkah radikal itu baru permulaan. Tahun ini Dubai mulai melarang penggunaan piring, wadah makanan, dan peralatan makan berbahan plastik.***

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *