JAKARTA, borneoreview.co – Lembaga konsultan produk pertanian, UkrAgroConsult memprediksi produksi minyak kelapa sawit Kalimantan turun 12-15 persen pada kuartal keempat tahun 2026.
Merosotnya hasil panen kelapa sawit akibat kemarau panjang dan dampak kebakaran hutan yang meluas di Kalimantan sejak Juli 2026.
Puncak penurunan produksi kelapa sawit diperkirakan terjadi pada kuartal keempat atau sekitar Oktober tahun ini.
Lembaga penilai risiko sektor pertanian, StoneX merilis hasil perhitungan yang lebih mengkhawatirkan.
Menurut mereka, tingkat produksi kelapa sawit di Kalimantan bahkan telah turun sebesar 11–12 persen pada Agustus lalu.
Menurut UkrAgroConsult Kalimantan menjadi wilayah penopang utama industri sawit di Indonesia. Kawasan itu menyumbang lebih dari sepertiga total produksi minyak kelapa sawit nasional.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat secara gabungan berkontribusi sekitar 27 persen terhadap produksi kelapa sawit nasional.
Sementara ketiga provinsi lainnya di Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur menyumbang sekitar 36 persen jumlah produksi sawit.
Situasi ini makin parah akibat kebakaran hutan dan lahan terburuk di Indonesia selama 11 tahun terakhir. Kebakaran hutan terjadi di tengah kondisi kekeringan akibat fenomena El Nin.
Menurut data resmi, sekitar 202.000 hektare lahan terbakar di seluruh Indonesia selama periode Januari hingga Juli.
Sementara Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) memperkirakan lahan seluas 600.000 hektare mengalami kerusakan pada bulan Agustus.
Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperingatkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan dapat berlangsung dalam waktu cukup lama. Pohon kelapa sawit yang rusak akibat kebakaran bisa mati atau mengalami stres.
Padahal butuh waktu paling singkat tiga tahun untuk memulihkan kebun kelapa sawit yang rusak terbakar. Lahan perekebunan yang rusak terbakar harus terlebih dulu pulih sebelum kembali siap ditanami.
GAPKI mengklaim telah memangkas proyeksi produksi kelapa sawit Indonesia untuk tahun 2026 sebesar 2,9 persen akibat kebakaran hutan. Meski demikian total produksi kelapa sawit tetap lebih tinggi dari tahun lalu.
Sejumlah perkebunan kelapa sawit di Kalimantan mulai memasuki masa panen. Berdasarkan data nasional terbaru, Kalimantan Tengah resmi menggeser posisi Kalimantan Barat sebagai pemilik kebun sawit terluas di Kalimantan.
Luas lahan kelapa sawit di Kalteng tercatat mencapai 2.164,25 ribu hektar, sedikit unggul di atas Kalbar yang memiliki 2.156,99 ribu hektar.
Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat saat ini mengejar target Program Peremajaan Kelapa Sawit Pekebun (PKSP) seluas 3.650 hektare untuk tahun 2026.
Pemerintah menyiapkan dana bantuan dari BPDPKS sebesar Rp60 juta per hektare untuk mengganti tanaman tua rusak seluas total 41.459,5 hektare di wilayah tersebut.***
