KUBU RAYA, borneoreview.co – Riuh suara plastik berisi ribuan bibit lele pecah di udara Desa Durian, Sungai Ambawang, Kubu Raya Kalimantan Barat.
Senin pagi, 24 Agustus 2026, 4.000 ekor lele dilepas ke kolam bioflok. Air beriak, harapan pun tumbuh.
Di balik gemericik itu, sebuah cerita tentang keberanian warga desa merajut ekonomi baru.
Abdurrohman, 32 tahun, ayah dua anak, berdiri di tepi kolam dengan mata berbinar. Tiga tahun ia belajar otodidak, dari kegagalan hingga panen kecil.
“Pernah 30 persen ikan mati. Itu jadi pelajaran menjaga kualitas air,” ujarnya. Ia memilih lele karena siklus panen cepat, pasar jelas, dan perawatan lebih sederhana. Dari parit dan sumur ia mengalirkan air, dari tekad ia menumbuhkan keyakinan.
Semangat Abdurrohman menular. Warga membentuk Kelompok Tani Karya Anak Negeri (Kenari), dipimpin pamannya, Agung. Dukungan PLN melalui Program TJSL menghadirkan 13 kolam bioflok, pakan, sumur bor, dan sarana pendukung.
“Sebelumnya sederhana, kini lebih maksimal,” kata Agung. Pasar terbuka: lele segar Rp30.000/kg, lewat agen Rp25.000/kg, olahan marinasi Rp40.000/kg. Permintaan bisa 500 kg per bulan, jauh di atas kapasitas awal.
Ekonomi Desa Bangkit
Izal Hidayatur Rahman Herman dari PLN menegaskan, TJSL bukan sekadar bantuan, melainkan dorongan ekonomi desa.
“PLN ingin menciptakan nilai tambah bersama masyarakat,” ucapnya menjelaskan.
Kepala Dusun Siak Durian, Sigit, menyebut budi daya lele sebagai alternatif usaha selain perkebunan.
“Kami bangga PLN membantu. Ini jadi sumber pendapatan baru,” ujarnya. Dari usaha kecil Abdurrohman, kini lahir peluang besar lele bukan lagi sampingan, melainkan denyut ekonomi baru Desa Durian.*
Deskripsi//
Tags//
