Presiden Dorong Penguatan Berbasis Masyarakat Atasi Kebakaran Hutan dan Lahan

Pemadaman karhutla oleh personel TNI dan relawan.

JAKARTA, borneoreview.co – Presiden Prabowo Subianto mendorong penguatan kembali desa dan masyarakat sebagai basis menangani kebakaran hutan dan lahan. Warga sekitar hutan lebih responsif menangani kebakaran.

Menurut Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, langkah itu diambil Presiden setelah bertemu para pakar dan akademisi di Istana Negara.

Brian mengatakan, Presiden mengedepankan pengetahuan dan hasil penelitian untuk mencegah dan menangani kebakaran hutan. “Tadi disampaikan berbagai pengetahuan dan praktik-praktik baik kearifan lokal (mencegah kebakaran hutan) Presiden menyampaikan agar bisa digunakan sebagai referensi utama untuk nantinya bagaimana pengelolaan dan penanganan lahan gambut bisa dilakukan secara optimal,” kata Brian.

Dalam penanganan kebakaran, Presiden Prabowo mendorong penguatan kembali pendekatan berbasis desa dan masyarakat melalui masyarakat peduli api (MPA). Berdasarkan hasil kajian para ahli, masyarakat yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian memiliki peran penting dalam merespon awal secara cepat dan efektif.

“Beberapa praktik baik oleh para ilmuwan seperti membangun pompa yang cepat, bagaimana hitungan ketika penanganan melalui udara dan sebagainya. Presiden sangat menyambut baik agar hal-hal tadi bisa nantinya jadi referensi sekali lagi untuk badan yang akan segera dibentuk.”

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyebut aspek edukasi turut menjadi perhatian. Termasuk menyusun kurikulum pendidikan yang mengenalkan pentingnya ekosistem gambut dala mencegah kebakaran hutan.

Presiden meminta agar riset, penelitian, dan kajian mengenai gambut terus dilanjutkan. Penelitian akan mendukung pengelolaan lahan gambut Indonesia secara optimal.

“Intinya ke depan lahan gambut di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 33 juta hektare itu bisa optimal.  Di satu sisi dia memproduksi sesuatu yang cocok tetapi di sisi lain yang jauh lebih penting adalah dengan adanya pengelolaan maka pencegahan bisa lebih baik,” katanya.

Pertanian di lahan gambut memiliki potensi besar. Tanah gambut merupakan tanah ordo histosol yang kaya meterial organik dan jenuh air.

Lahan gambut yang tepat menjadi lahan pangan yang memiliki ketebalan kurang dari 1 meter. Gambut dangkal memiliki kesuburan relatif lebih tinggi dan tingkat risiko kerusakan lingkungan lebih redah.

Potensi lahan gambut dangkal mencapai 5.241.473 hektare atau 35,17 persen dari total luasan lahan gambut Indonesia. Tersebar di Papua seluas 2.425.523 hektare, serta di Sumatera dan Kalimantan masing-masing 1.767.303 hektare dan 1.048.611 hektare.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *