Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Menghormati dan Melindungi Investasi

Presiden Prabowo

JAKARTA, borneoreview.co – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen untuk menghormati dan melindungi investasi. Indonesia menarik investasi besar dari China terutama untuk pengolahan nikel.

Presiden menyampaikan hal tersebut dalam upacara peresmian operasi komersial fasilitas industri di kawasan industri PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Utara.

Kawasan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park tercatat dimiliki oleh tiga perusahaan asal China: Tsingshan Holding Group (40 persen), Huayou Holding Group (30 persen), dan Zhenshi Holding Group Co., Ltd (30 persen).

Dalam acara tersebut, Presiden Prabowo meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik (EV) yang diproduksi oleh REPT Battero.

“Saya menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk menghormati dan melindungi seluruh investasi, dari mana pun asalnya,” kata Presiden. “Kami berkomitmen menjaga kemitraan ini sebaik mungkin. Merupakan suatu kehormatan bagi rakyat Indonesia untuk mendukung para mitra kami.”

Indonesia menarik investasi besar-besaran di sektor industri logam dan pengolahan biji mineral (smelter), terutama dari China.

Kebijakan Kontra Investasi

Namun kebijakan-kebijakan terkini menimbulkan sejumlah kekhawatiran di kalangan pelaku usaha.

Perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di Indonesia mendesak penerapan kebijakan yang lebih ramah bisnis.

Mereka memperingatkan Presiden melalui surat bahwa kuota pertambangan yang lebih ketat, pajak yang lebih tinggi, serta formula penetapan harga yang baru, telah meningkatkan biaya operasional dan mengancam kelangsungan investasi.

Kebijakan pemerintah memangkas kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) biji nikel secara nasional, mengganggu produksi sejumlah pabrik pengolahan nikel.

Pengurangan kuota produksi beberapa tambang skala besar hingga lebih dari 70 persen atau setara dengan penurunan pasokan sekitar 30 juta ton.

Investor memperingatkan bahwa kebijakan ini membawa rantai pasok industri hilir seperti baterai kendaraan listrik dan baja nirkarat (stainless steel) pada gangguan bisnis.

Penerapan formula HPM baru memasukkan komponen logam terkait seperti kobalt, besi, dan kromium dalam penilaian.

Menyebabkan naiknya harga biji nikel kadar rendah secara drastis dari 17 persen menjadi 30 persen.

Memicu kenaikan biaya komprehensif biji nikel hingga dua kali lipat yang memperbesar kerugian operasional.

Eksportir Utama Nikel

Indonesia, yang memiliki cadangan biji nikel terbesar di dunia, melarang ekspor nikel mentah pada tahun 2020. Tujuannya mendorong industri pengolahan dalam negeri.

Kebijakan tersebut membantu Indonesia menjadi eksportir utama produk nikel dunia, menyumbang sekitar 60 persen dari pasokan global.

Nilai ekspor nikel Indoneia meningkat dari US$3,3 miliar pada tahun 2017 menjadi lebih dari US$33 miliar pada tahun 2024.

Menurut Menteri Investasi Investasi dan Hilirisasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, beberapa perusahaan yang berinvestasi dalam proyek baru di Weda Bay antara lain PT Guang Ching Nickel Cobalt, PT Weda Bay Aluminium, dan PT Flatsolar Energy Indonesia.

“Keempat proyek tersebut bernilai US$3,4 miliar. Sementara investasi untuk enam proyek lainnya mencapai US$6,8 miliar,” kata Rosan Roeslani.

Menurut Rosan, proyek pembangunan baru tersebut mencakup fasilitas untuk memproduksi bahan baku baterai berbasis nikel, komponen baterai, serta kaca fotovoltaik untuk panel surya.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *