Rumah Dibakar Asap, Harapan Mencari Atap

Gubernur Rapat dengan Menteri

PONTIANAK, borneoreview.co – Asap perlahan lenyap dari ufuk Kalimantan Barat, namun jejak luka tetap membekas di tanah gambut. Rumah hangus, harapan menipis hingga satu usulan muncul menjawab rintangan berbulan-bulan.

Jumat, layar rapat daring menyala di ruang DAR Kantor Gubernur Kalimantan Barat.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menatap gambar mitra bicara dari Jakarta, napas panjang terhembus pelan.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, memaparkan fakta mengejutkan.

Angka pembangunan rumah di Kalimantan Barat melesat tajam. Tahun lalu tercatat tiga ribu sembilan puluh enam unit.

Tahun dua ribu dua puluh enam melonjak jadi tujuh belas ribu sembilan ratus lima puluh unit.

Kenaikan mencapai empat ratus delapan puluh persen. Capaian ini tertinggi se Indonesia. Delapan ribu delapan ratus dua puluh lima unit sudah cair dananya.

Seribu empat ratus delapan unit selesai fisik seratus persen. Prestasi ini patut diapresiasi tinggi.

Namun realitas lapangan tetap keras. Asap tebal menghalangi jalur sungai. Material bangunan tertahan di pelabuhan.

Biaya transportasi membengkak drastis. Waktu pengiriman molor berhari hari. Para pekerja konstruksi berjuang ekstra keras. Mereka bekerja di tengah visibilitas minim. Dedikasi mereka luar biasa nyata.

Data terpampang nyata dari 3.096 unit tahun lalu, kini berdiri 17.950 unit rumah pada 2026.

Kenaikan 480 persen menjadikan Kalbar salah satu daerah dengan laju tercepat di Indonesia.

“Angka ini luar biasa,” ujar Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait. “Namun tantangan belum usai.”

Delapan ribu lebih unit dana telah cair, progres fisik nasional baru mencapai 7,84 persen.

Di Kalbar, jalur sungai tertutup kabut asap, material bangunan harus berputar lewat darat. Waktu memanjang, biaya bertambah.

Menteri PUPR Rapat dg Gubernur Kalbar
Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP),
Rapat Koordinasi bersama dengan Gubernur Kalbar, Ria Norsan, Jumat (18/9/2026).(Ist)

Api yang Menyisakan Luka

Dua bulan lebih, api menggerogoti hutan dan lahan Kalbar. Atap rumah warga luruh dalam sekejap.

Ria Norsan merasakan langsung getaran duka itu. “Alhamdulillah, titik api mulai berkurang. Cuaca membaik,” suaranya lembut namun tegas. “Namun warga pulang tanpa atap.”

Ia mengajukan permohonan tepat di forum itu. Rumah yang hangus akibat karhutla perlu dibangun kembali lewat skema Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya.

Mekanisme berlaku tetap dijalankan, sasaran ditujukan bagi mereka yang kehilangan tempat bernaung.

“Bila diizinkan, warga kembali memiliki rumah layak. Itu bukan sekadar bangunan itu pulangnya harapan,” ucapnya.

Langkah Ringan Beban Warga

Pemprov Kalbar telah membuka jalan keringanan. Balik nama tanah digratiskan. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dibebaskan bagi warga serta pengembang.

Kebijakan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ia memastikan warga tidak tertimbun biaya saat berusaha bangkit.

Pemerintah pusat menyambut baik langkah itu. Koordinasi lintas sektor diperkuat agar material mengalir lancar, pembangunan selesai tepat waktu.

Asap memang menghilang, namun pemulihan butuh lebih dari sekadar hujan. Ia butuh kebersamaan pusat dan daerah bergandengan tangan, memastikan tak ada warga tertinggal tanpa atap.

Gubernur Kalimatan Barat Ria Norsan meminta akses program BSPS bagi korban Karhutla.

Kalbar catat lonjakan pembangunan rumah tertinggi seiring tantangan bencana. Kebijakan keringanan biaya turut meringankan beban warga.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *