LUWU TIMUR, borneoreview.co – Teknologi high pressure acid leach (HPAL) menjadi bagian penting proses hilirisasi nikel. Memungkinkan pemanfaatan biji nikel limonit menjadi baku industri baterai.
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) salah satu perusahaan tambang nikel yang mulai mengembangkan teknologi HPAL. Bekerja sama dengan beberapa mitra mengolah biji limonit menjadi bahan mentah baterai.
Teknologi HPAL pada tahap midstream mengolah biji limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP). Produk antara tersebut selanjutnya diproses menjadi bahan baku industri baterai.
Head of Strategy and Business Development Vale Indonesia, Mateus Sigit Hari Sulistya mengatakan, HPAL menjadi bagian penting dalam membangun rantai nilai nikel yang terintegrasi. Mulai dari penambangan hingga pengolahan dan pengembangan produk turunan.
“HPAL sangat penting dalam fase midstream karena menjadi pondasi awal sebelum kita masuk ke further downstreaming,” kata Mateus Sigit.
Dalam rantai holirisasi, MHP belum menjadi produk akhir untuk industri baterai. Produk ini masih harus melalui proses refining dan downstreaming untuk menghasilkan precursor cathode active material (pCAM), kemudian cathode active material (CAM), sebelum masuk ke tahap produksi material baterai.
Teknologi HPAL membuka pemanfaatan biji limonit yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi rendah. Cara ini memungkinkan perusahaan mengembangkan sumber pendapatan baru dari material yang sebelumnya tidak menjadi bagian utama dalam pengolahan nikel.
PT Vale Indonesia Tbk sebelumnya mengandalkan pengolahan biji saprolit di Sorowako untuk menghasilkan nikel matte melalui teknologi pirometalurgi. Sekarang perusahaan mulai mengembangkan pemanfaatan limonit melalui fasilitas HPAL bersama sejumlah mitra.
“Dengan adanya teknologi HPAL, kini terbuka jalur baru untuk meng-unlock value dari limonite ore,” ujar Mateus Sigit.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari perubahan strategi operasi PT Vale dari satu basis operasi di Sorowako, menuju platform pertumbuhan multiwilayah. Perseroan memiliki tiga konsesi, yakni Sorowako di Sulawesi Selatan, Pomalaa di Sulawesi Tenggara, serta Bahodopi di Morowali, Sulawesi Tengah.
PT Vale mengembangkan tambang sekaligus HPAL di Sambalagi, Morowali melalui kerja sama dengan mitra. Mitra pengolahan biji limonit mendapat pasokan dari tambang nikel di Bahodopi dengan kapasitas HPAL sekitar 60.000–90.000 ton.
Sementara di lokasi tambang Pomalaa, perseroan mengintegrasikan penambangan biji saprolit dan limonit. Untuk limonit, PT Vale bersama mitra mengembangkan fasilitas HPAL dengan kapasitas sekitar 120.000 ton.
Di Sorowako, operasi existing PT Vale Indonesia Tbk masih menghasilkan nikel matte dari biji saprolit melalui proses pirometalurgi. Untuk biji limonit, perseroan mengembangkan fasilitas HPAL bersama mitra.
Pengembangan HPAL menunjukkan bahwa hilirisasi nikel tidak hanya berkaitan dengan peningkatan volume produksi tambang. Tapi juga bagaimana mengolah sumber daya menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih besar.
Teknologi HPAL menjadi penghubung antara sumber daya limonit dan industri pengolahan lanjutan. Pengembangan HPAL mengalami kemajuan signifikan setelah keberhasilan Project Ramu di Papua Nugini.
Meski demikian, proyek HPAL membutuhkan modal besar dan memiliki kompleksitas teknis tinggi. PT Vale Indonesia Tbk memilih model kemitraan yang melengkapi sumber daya serta pasokan biji dari perseroan.
Selain aspek ekonomi, keberlanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan HPAL. Emisi dari proses HPAL lebih rendah dari sistem pirometalurgi.
Namun, teknologi HPAL menghasilkan tailing atau residu dalam jumlah signifikan sehingga pengelolaannya menjadi salah satu aspek yang harus mendapat perhatian.
Pengembangan HPAL perlu dilihat dalam perspektif jangka panjang, bukan hanya berdasarkan kondisi pasar saat ini. Daya saing teknologi, ketersediaan biji lemonit, skala produksi, tingkat recovery, serta efisiensi operasi menjadi sejumlah faktor yang menentukan keberlanjutan fasilitas tersebut.
Berkembangnya industri baterai dan rantai pasok kendaraan listrik dalam negeri, HPAL berpotensi menjadi salah satu fondasi penting dalam memperluas hilirisasi nikel di Indonesia.
Pengolahan limonit menjadi MHP juga membuka ruang bagi pengembangan tahapan hilir berikutnya, sehingga nilai tambah nikel dapat diperluas di dalam negeri.***
