Tiga Langkah Warga Menghadapi Karhutla di Kalimantan

Petugas berjuang memadamkan api kebakaran hutan dan lahan.

JAKARTA, borneoreview.co – Bagaimana kebakaran hutan dan lahan, karhutla terjadi di Kalimantan dan langkah antisipasinya. Belajar dari banyak kasus kebakaran hutan alami.

Meski ada perbedaan tipikal kebakaran hutan alami di Los Angeles, Amerika dengan karhutla di Kalimantan, setidaknya analisa dasar ini mampu memberi gambaran pada warga mengenai strategi mengungsi dan mengatasi kobaran api secara swadaya.

Kebakaran hutan di Califoria umumnya disebabkan curah hujan yang minim dan hutan dalam kondisi kering. Kondisi itu semakin berbahaya ketika angin musiman Santa Ana memicu hembusan berkecepatan hingga 100 mil per jam (sekitar 160 km/jam).

Tanah Pinoh Perkuat Kesiapsiagaan, Bupati Melawi Tekankan Sinergi Karhutla

Angin yang kering menyebarkan bara api memicu titik panas baru serta menyulitkan petugas pemadam kebakaran dalam mengendalikan kobaran api.

Kebakaran hutan dapat melahap jutaan hektare lahan dengan kecepatan yang mencengangkan. Kobaran api dapat bergerak hingga kecepatan 14 mil per jam -setara kecepatan lari satu mil dalam empat menit.

Sejak tahun 2000, rata-rata terjadi 72.400 kebakaran hutan yang menghanguskan rata-rata 7 juta hektare lahan di Amerika setiap tahun. Angka ini dua kali lipat lebih luas dibandingkan lahan yang terbakar pada tahun 1990-an.

Bagaimana Kebakaran Bermula

Hanya 10 hingga 15 persen kebakaran hutan terjadi secara alami. Sebanyak 85 hingga 90 persen sisanya disebabkan aktivitas manusia, termasuk api unggun atau pembakaran sampah yang tidak diawasi, puntung rokok yang dibuang sembarangan, dan pembakaran yang disengaja (arson).

Kebakaran hutan alami dapat dipicu cuaca kering dan musim kemarau. Dalam kondisi ini, vegetasi yang biasanya hijau berubah menjadi bahan bakar yang sangat kering dan mudah terbakar.

Tips Atasi Polusi Asap Karhutla: Filter Udara Pakai Lap Basah

Angin kencang menyebarkan api dengan cepat; dan suhu hangat memicu proses pembakaran. Dengan adanya faktor-faktor tersebut, satu-satunya hal yang kurang hanyalah percikan api —baik dari petir, tindakan pembakaran sengaja, kabel listrik yang putus, maupun api unggun atau rokok yang menyala— untuk memicu bencana besar.

Baik yang terjadi secara alami maupun akibat ulah manusia, tiga kondisi harus terpenuhi agar kebakaran hutan dapat terjadi: Bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Petugas pemadam kebakaran menyebut ketiga elemen ini sebagai “segitiga api”.

Bahan bakar adalah segala material mudah terbakar di sekitar api, termasuk pepohonan, rerumputan, semak belukar, bahkan permukiman penduduk. Semakin besar jumlah bahan bakar di suatu wilayah, semakin hebat pula kemungkinan intensitas kebakarannya.

Kemudia udara menyediakan oksigen yang dibutuhkan api untuk menyala. Kebakaran hutan sering kali diperparah oleh angin yang panas dan kering, sehingga mampu membawa percikan api hingga jauh.

Sumber panas berperan memicu kebakaran hutan dan meningkatkan suhu bahan bakar hingga mencapai titik nyala. Api unggun atau rokok yang menyala, bahkan sinar matahari dapat menghasilkan panas yang cukup untuk memicu kebakaran hutan.

Cara Memadamkan

Petugas pemadam kebakaran memerangi kobaran api dengan menghilangkan satu atau lebih unsur dasar dalam “segitiga api”. Salah satu metode tradisional adalah menyiram api yang sedang berkobar dengan air serta menyemprotkan bahan penghambat api (fire retardant).

Petugas pemadam kebakaran terkadang juga bekerja dalam tim —sering disebut hotshot— untuk membersihkan vegetasi di sekitar lokasi kebakaran guna melokalisasi api, pada akhirnya memutus pasokan bahan bakarnya. Jalur lahan kosong yang terbentuk akibat tindakan ini disebut sebagai sekat bakar (firebreak).

Pemkab Melawi Perkuat Penanganan Karhutla di Belimbing, Titik Panas Masih Terdeteksi

Petugas pemadam kebakaran juga dapat melakukan pembakaran terkendali atau membuat api lawan (backfire) untuk menghentikan kebakaran hutan meluas. Metode ini pada dasarnya adalah melawan api dengan api.

Pembakaran yang direncanakan dan dikendalikan akan melenyapkan semak belukar, tanaman bawah, dan serasah hutan, sehingga memutus pasokan bahan bakar bagi kebakaran hutan yang sedang mengamuk hebat.

Manfaat Kebakaran Hutan

Pernyataan ini mungkin terdengar kontroversial ditengah meluasnya karhutla di Kalimantan. Tapi Walaupun dapat membahayakan manusia, kebakaran hutan secara alami memiliki peran penting bagi alam.

Dengan membakar materi yang mati atau membusuk, kebakaran hutan dapat mengembalikan nutrisi yang sebelumnya terkunci dalam materi tersebut ke dalam tanah. Kebakaran hutan juga berfungsi sebagai disinfektan alami yang menyingkirkan tanaman berpenyakit dan serangga berbahaya dari ekosistem.

Kebakaran hutan menipiskan tajuk pohon dan vegetasi bawah, sehingga memungkinkan sinar matahari mencapai lantai hutan dan memicu pertumbuhan bibit tanaman yang baru. Bahkan, beberapa spesies pohon, seperti sequoia, sangat bergantung pada api agar benihnya dapat terbuka.

Kebakaran hutan meluluhlantakkan apa pun yang berada di jalurnya. Meskipun sulit dihentikan, ada berbagai langkah yang dapat dilakukan masyarakat— baik sebelum, saat, maupun setelah kebakaran terjadi— untuk meminimalkan dampak kerusakan.

Sebelum Kebakaran:
Jika Anda mengetahui ada kebakaran hutan yang bergerak menuju wilayah Anda, tindakan terbaik adalah segera pergi menyelamatkan diri.

Jika Anda tinggal di daerah rawan kebakaran, sebaiknya lakukan persiapan sejak dini. Siapkan rencana evakuasi dan tas siaga bencana berisi perlengkapan darurat selama musim kebakaran.

Pangkas semak belukar, rumput liar, dan material lain yang berpotensi menjadi bahan bakar api di properti Anda, terutama di sekitar rumah. Simpan alat pemanggang, tabung propana, atau bahan mudah terbakar lainnya yang mungkin ada di halaman Anda.

Pemkab Melawi Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla hingga Desa

Tutup semua pintu dan jendela, serta isi bak cuci, bak mandi, dan wadah lainnya dengan air untuk membantu mencegah penyebaran api. Matikan aliran gas alam, propana, atau bahan bakar minyak.

Saat membeli rumah di daerah rawan kebakaran hutan, hindari lingkungan yang berada di lereng curam atau gundul. Meskipun sebagian orang khawatir rumah di dekat semak-semak lebih rentan terbakar, kenyataannya tidak selalu demikian.

Sebaliknya, lanskap tanpa vegetasi justru bisa menjadi jalur bagi angin untuk membawa bara api —salah satu ancaman terbesar bagi rumah saat terjadi kebakaran hutan.

Membasahi atap rumah dapat membantu mengurangi risiko tersulutnya api akibat bara yang terbawa angin. Bahkan, beberapa warga di daerah rawan kebakaran memasang alat penyiram air (sprinkler) di atap untuk tujuan tersebut.

Saat Kebakaran:
Tetaplah berada dalam ruangan. Pergilah ke bangunan atau ruangan paling aman dengan tingkat asap terendah. Berjongkok di posisi rendah untuk mendapatkan udara yang lebih bersih. Jika tidak memiliki masker, bernapaslah melalui kain basah.

Jika Anda terjebak di luar ruangan, cobalah mencari sumber air dan berjongkoklah di dalamnya. Jika tidak memungkinkan, carilah cekungan tanah dengan vegetasi paling sedikit dan berbaringlah serendah mungkin, lalu tutupi tubuh Anda dengan selimut basah, pakaian, atau tanah jika bisa.

Setelah Kejadian:
Dengarkan arahan pihak berwenang sebelum mengonsumsi air dari wilayah tersebut. Hindari benda-benda yang masih panas, berasap, atau hangus terbakar.

Kenakan masker debu dan dokumentasikan kerusakan properti. Waspadai risiko banjir, karena pepohonan dan vegetasi pelindung mungkin telah disingkirkan, sehingga tanah yang gembur menjadi terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *