Tumpang Sari Pisang Cavendis, Cara Petani Tetap Cuan Selama Peremajaan Sawit

Ilustrasi tumpang sari sawit

OGAN KOMERING ULU, borneoreview.co – Masa jeda selama peremajaan sawit menjadi fase yang paling mencemaskan bagi petani swadaya. Lahan tidak produktif menunggu kelapa sawit usia tanam baru menghasilkan tandan buah segar.

Sedikitnya butuh waktu tiga tahun bagi sawit untuk berbuah sejak masa tanam baru. Bagaimana patani bertahan hidup pada masa paceklik itu?

Petani di Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, punya cara cerdik agar kebun dalam fase peremajaan tetap menghasilkan.

Melalui Asosiasi Sahabat Bumi, para petani sawit swadaya di Peninjauan menanam pisang Cavendis sebagai tanaman sela bibit sawit. Pisang Cavendis memiliki harga jual yang tinggi setara pisang ambon.

Uji coba menanam pisang sebagai tanaman sela selama peremajaan sawit di atas lahan seluas dua hektare. Rencananya 10.000 bibit pisang Cavendish akan ditanam di lahan petani lewat kemitraan strategis dengan perusahaan penyerap (offtaker).

“Pisang ini tidak akan mengganggu pertumbuhan sawit,” kata Sumardiyono, mewakili para petani yang tergabung dalam Asosiasi Sahabat Bumi.

Karakter morfologi Cavendish cocok sebagai tanaman tumpangsari yang ramah lingkungan. Tinggi rata-rata sekitar dua meter, tajuk pisang tidak saling berebut sinar matahari dengan kelapa sawit muda.

Perawatannya relatif hemat dan bersahabat bagi petani swadaya karena mengoptimalkan pupuk organik. Pendekatan metode organik ini memantapkan posisi Asosiasi Sahabat Bumi yang sedang intensif meraih sertifikasi minyak sawit berkelanjutan.

Rencananya setiap petani swadaya menanam 200 hingga ribuan pisang Cavendis di lahan masing-masing.

Model bisnis penjualan pisang Cavendis menerapkan sistem tertutup dari hulu hingga ke hilir. Hal ini untuk mengantisipasi turun-naik harga di pasaran yang bisa merugikan petani.

Perusahaan offtaker sawit menyalurkan bibit pisang melalui skema diskon khusus 50 persen. Petani mendapat keringanan melunasi modal dari potongan proporsional bagi hasil setelah panen.

Proyek ini melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) sebagai jembatan kolektif dengan perusahaan pembeli (offtaker). Kemitraan ini memastikan seluruh hasil tandan pisang langsung terserap dengan standar mutu dan harga yang terjaga.

Pilihan jatuh pada pisang Cavendish karena memiliki tingkat permintaan domestik yang tinggi. Pisang Cavendish mudah dijual ke ritel modern, hotel, restoran, dan katering.

Teksturnya yang lembut, warna kulit bersih mulus, serta daya simpan yang baik menjadikannya buah favorit masyarakat perkotaan.

Bagi petani cara ini menjadi penyelamat keuangan selama masa peremajaan sebelum sawit berbuah. Secara perhitugan ekonomi, bobot satu tandan pisang Cavendish mencapai 15 hingga 25 kilogram.

Dengan asumsi harga di tingkat petani berkisar Rp 5.000 – Rp 6.500 per kilogram, tiap pohon isang berpotensi menyumbang pendapatan kotor sekitar Rp 75.000 hingga Rp 150.000.

Jumlah tersebut cukup untuk menopang ekonomi petani selama peremajaan dan menunggu pohon sawit menghasilan tandan buah segar.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *