WKRI Kalbar Bentuk Satgas Pendamping Korban Kekerasan

WKRI Kalbar

PONTIANAK, borneoreview.co – Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Daerah Kalimantan Barat membentuk satuan tugas pendampingan perempuan dan anak korban kekerasan sebagai bagian dari gerakan sosial organisasi dalam peringatan usia ke-102 tahun.

“Kami membentuk Laskar Tangguh untuk ikut membantu melakukan pendampingan, pembinaan, dan memberi semangat kepada korban kekerasan perempuan, anak, dan kelompok rentan,” kata Ketua Presidium WKRI DPD Kalbar Agnes Wahyurini di Pontianak, Jumat (5/6/2026).

Agnes mengatakan satuan tugas bernama Laskar Tangguh tersebut akan diresmikan pada puncak perayaan HUT WKRI pada 28 Juni 2026 dan akan bergerak bersama pemerintah daerah dalam upaya perlindungan kelompok rentan.

Ia menjelaskan pembentukan satgas tersebut merupakan bentuk kepedulian WKRI terhadap meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang belakangan menjadi perhatian berbagai pihak.

Menurut dia, WKRI Kalbar telah menjalin sinergi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) untuk memperluas pendampingan hingga ke daerah-daerah.

“Di usia 102 tahun, kami tidak ingin hanya diam. Kami ingin terus bergerak mengangkat harkat dan martabat perempuan serta memastikan perempuan dan anak mendapatkan perlindungan,” tuturnya.

Selain isu perlindungan perempuan dan anak, ia mengatakan WKRI Kalbar juga aktif bergerak dalam bidang pendidikan dan lingkungan hidup.

Di sektor pendidikan, WKRI mengembangkan program rumah belajar gratis yang diperuntukkan bagi anak-anak mulai usia prasekolah hingga kelas VI sekolah dasar tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang budaya.

Program tersebut lahir dari keprihatinan organisasi terhadap masih adanya anak usia sekolah dasar yang belum mampu membaca dan menulis dengan baik serta meningkatnya ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai.

“Kami menemukan anak kelas tiga SD yang belum bisa menulis namanya sendiri. Dari situ kami merasa perlu bergerak membantu pendidikan dasar anak-anak,” katanya.

Kegiatan rumah belajar dilaksanakan dua kali dalam sepekan dan saat ini telah berkembang di sejumlah cabang WKRI di Kalimantan Barat dengan dukungan masyarakat dan pemerintah desa.

Di bidang lingkungan hidup, WKRI Kalbar juga menggalakkan gerakan pengurangan sampah plastik melalui kewajiban membawa tumbler dalam setiap kegiatan organisasi serta mendorong penanaman tanaman apotek hidup dan sayuran rumah tangga.

Gerakan tersebut berkembang hingga melahirkan kelompok tani dan hidroponik di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Kubu Raya.

Agnes menyebut langkah tersebut sekaligus mendukung program ketahanan pangan pemerintah berbasis keluarga dan komunitas perempuan.(Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *