Lain Cerita Sawit di Afrika: Tanaman Obat Pohon Kehidupan

Sawit menjadi bahan obat di Afrika.

ABIDJAN, borneoreview.co – Nun jauh di Afrika, masyarakat mengenal sawit bukan sebagai tanaman ekonomi produksi massal. Olahan tradisional sebagai bahan obat, campuran makanan, dan garam masak.

Suku-suku di Afrika selama beradab-abad menemukan beragam kegunaan tanaman ini. Sawit menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pangan, ekonomi lokal, serta budaya masyarakat setempat.

Dalam lagu-lagu tradisional di banyak negara Afrika Barat dan Tengah, masyarakat menjuluki kelapa sawit sebagai “pohon kehidupan”.

Di Afrika, hanya sebagian kecil kelapa sawit yang berasal dari perkebunan monokultur. Sebagian besar tumbuh dalam rumpun-rumpun pohon di tengah hutan campuran.

Keluarga secara rutin merawat dan memanen rumpun-rumpun sawit. Di sebagian besar wilayah Afrika -mulai Senegal di barat hingga ujung selatan Angola- banyak rumpun sawit yang tumbuh semi liar.

Kelangsungan hidup dan penyebaran sawit di Pantai Gading, bergantung pada seekor hewan kecil: Tupai yang dalam bahasa Yacouba disebut “gbe”.

Tupai yang hidup di pepohonan, memakan buah sawit yang sudah matang dan menyebarkan bijinya lewat kotoran. Perilaku hewan ini menjadi penanda yang dapat diandalkan untuk mengetahui kapan buah sawit telah matang.

Burung juga berperan dalam siklus penyebaran kelapa sawit dengan membawa buahnya jauh dari tanaman induk. Beberapa petani di Kamerun memindahkan bibit kelapa sawit dari hutan ke perkebunan kecil yang luasnya tidak lebih dari dua hektare.

Proses panen tandan buah menyebabkan banyak biji jatuh ke tanah. Membantu peremajaan tegakan kelapa sawit serta mendorong pertumbuhan pohon-pohon di sekitar desa.

Pengganti ASI

Minyak kelapa sawit telah lama menjadi minyak nabati pilihan di Pantai Gading. Rata-rata penduduk Pantai Gading mengonsumsi sekitar 10 kilogram bahan olahan sawit setiap tahun.

Minyak sawit tidak hanya untuk menggoreng makanan tapi juga sebagai bahan utama berbagai hidangan lokal. Mulai dari saus “gumbo” hingga sajian berbahan pisang raja atau “foufou”.

Minyak kelapa sawit memberikan cita rasa dan warna khas dalam kuliner Pantai Gading. Konsumen tetap setia mengonsumsi minyak sawit olahan tradisional, meskipun harganya lebih mahal dari minyak industri perkebunan.

Masyarakat Afrika memanfaatkan setiap bagian olahan kelapa sawit tradisional. Mulai akar hingga pelepahnya untuk menghasilkan beragam produk.

Beraneka minuman fermentasi dan sup, sabun dan salep, hingga obat-obatan tradisional dan pakan ternak terbuat dari olahan sawit tradisional.

Suku Yambassa di Mbam memanfaatkan daun kelapa sawit untuk mengobati gigi berlubang. Tuak kelapa sawit menjadi bahan dasar obat impotensi, klamidia, infeksi gonore, sakit perut, penyakit kuning, dan campak.

Suku Mvele sub-suku Beti, mengolah bagian inti batang kelapa sawit menjadi hidangan bagi ibu yang baru melahirkan karena dapat merangsang produksi air susu.

Minyak inti sawit hitam oleh suku Bantu disebut “manyanga”, memiliki beragam kegunaan untuk kosmetik dan pengobatan. Perawatan kulit dan rambut sering memakai bahan dasar minyak sawit.

Sawit menjadi bahan penting dan lazim dalam ramuan untuk merawat bayi yang baru lahir. Bangsal bersalin modern merekomendasikan minyak sawit olahan tradisional sebagai pengganti susu formula bayi.

Minyak “manyanga” memiliki khasiat meningkatkan daya tahan tubuh bagi anak-anak. Suku Beti menggunakan campuran “manyanga” sebagai bahan baluran untuk bayi yang lahir dengan warna kulit lebih terang karena lebih rentan sakit.

Minyak inti sawit berkhasiat meredakan demam pada anak-anak. Minyak sawit menjadi obat manjur mengatasi sakit perut, malaria, batuk, dan sakit telinga.

Mengunyah akar sawit meredakan sakit gigi. Akar sawit di Afrika juga berkhasiat sebagai dekongestan hidung.

Hasil bakaran kulit sawit memiliki sifat antiseptik dan antibakteri. Bubuk arangnya cocok untuk mengatasi sakit perut berkepanjangan.

Arang hasil pembakaran inti buah sawit dapat memutihkan gigi dan masyarakat di Kamerun Selatan menggunakannya sebagai pasta gigi. Abu dari kulit kayu sawit dapat mengobati bisul.

Hasil rebusan endapan abu pembakaran daun sawit juga menghasilkan mineral garam. Suku-suku di Afrika mengunakan cara ini untuk mendapatkan garam masak.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *