MELAWI, borneoreview.co – Asap tipis kembali menggantung di sejumlah wilayah Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Di tengah musim kemarau yang mulai mengeringkan bentang alam, kobaran api perlahan menjalar dari satu kawasan ke kawasan lain, membakar semak belukar, perkebunan warga, hutan, hingga lahan gambut.
Hingga Jumat (7/8/2026), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat telah melanda delapan desa dengan total luas lahan terdampak mencapai sekitar 757 hektare. Sejumlah titik memang telah berhasil dikendalikan, namun beberapa lokasi masih menyisakan bara yang terus berupaya dijinakkan oleh tim gabungan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Melawi mencatat, wilayah terdampak tersebar di Desa Nusa Kenyikap dan Desa Batu Ampar, Kecamatan Belimbing; Desa Tebing Karangan, Desa Nanga Kayan, dan Desa Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh; Desa Pelempai Jaya, Kecamatan Ella Hilir; Desa Pelinggang, Kecamatan Pinoh Selatan; serta Desa Bloyang, Kecamatan Belimbing Hulu.
Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Daniel, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Melawi, Rahmad Mauludin, menyebut kondisi karhutla saat ini perlu menjadi perhatian serius karena masih terdapat sejumlah titik api aktif.
“Karhutla saat ini sudah semakin meluas. Berdasarkan laporan yang kami terima, total luasan lahan yang terbakar di delapan desa mencapai sekitar 757 hektare. Beberapa lokasi sudah berhasil dipadamkan, tetapi di sejumlah titik api masih menyala dan terus membutuhkan penanganan,” ujar Rahmad.
Salah satu wilayah dengan dampak cukup luas berada di Desa Nusa Kenyikap. Sekitar 135 hektare lahan terbakar di wilayah tersebut. Meski sekitar dua hektare telah berhasil dipadamkan, asap masih terlihat akibat bara yang tersisa di dalam tanah.
Di Desa Tebing Karangan, Kecamatan Nanga Pinoh, kebakaran melanda sekitar 55 hektare lahan dan kini telah berhasil dipadamkan. Sementara di Desa Batu Ampar, api membakar sekitar tujuh hektare lahan dan juga telah berhasil dikendalikan.
Kebakaran dengan luasan cukup besar terjadi di Desa Pelempai Jaya, Kecamatan Ella Hilir. Sekitar 150 hektare lahan terdampak, meski laporan terakhir menyebutkan api telah berhasil dipadamkan.
Berbeda dengan kondisi di Desa Pelinggang, Kecamatan Pinoh Selatan. Kebakaran sekitar 10 hektare lahan masih menjadi perhatian karena api terus bergerak memasuki kawasan perkebunan masyarakat.
Ancaman lebih besar terjadi di Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh. Sekitar 100 hektare lahan terbakar, dengan kondisi api yang masih aktif. Karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit karena bara dapat bertahan lama di bawah permukaan tanah.
Kondisi serupa terjadi di Desa Bloyang, Kecamatan Belimbing Hulu. Dengan luas kebakaran mencapai sekitar 200 hektare, api masih membakar kawasan perkebunan warga. Sementara di Desa Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh, luas lahan terbakar diperkirakan sekitar 100 hektare.
Medan Sulit dan Minim Air Jadi Tantangan
Di balik upaya memadamkan api, tim gabungan menghadapi tantangan besar. Lokasi kebakaran yang tersebar dan sebagian berada jauh dari pusat kabupaten membuat mobilisasi personel maupun peralatan tidak mudah.
Medan perbukitan, akses jalan yang terbatas, minimnya sumber air, hingga karakteristik lahan gambut menjadi hambatan utama dalam proses pemadaman.
“Kendala utama di lapangan adalah akses yang cukup jauh, medan yang berat, terutama di daerah perbukitan dan lahan gambut, serta keterbatasan sumber air. Karena itu, kebutuhan dukungan untuk penanganan karhutla semakin mendesak,” kata Rahmad.
Saat ini, penanganan melibatkan berbagai unsur, mulai dari TRC-PB BPBD Melawi, Manggala Agni PONJA Melawi, Polres Melawi, Polsek Nanga Pinoh, KPH Melawi, pemerintah desa, hingga masyarakat setempat.
Tim tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga pemantauan dan penjagaan agar api tidak mendekati permukiman warga.
“Kami berupaya agar api tidak semakin meluas dan membahayakan masyarakat,” ujar Rahmad
Berharap Dukungan Water Bombing
Dengan kondisi beberapa titik yang sulit dijangkau melalui jalur darat, BPBD Melawi berharap adanya dukungan Satgas Udara untuk membantu operasi pemadaman melalui water bombing.
Menurut Rahmad, dukungan pemadaman dari udara dibutuhkan terutama untuk wilayah yang memiliki medan berat dan sumber air terbatas.
“Kami sangat berharap dukungan Satgas Udara untuk membantu pemadaman dari udara, khususnya pada lokasi yang sulit dijangkau tim darat. Water bombing sangat dibutuhkan untuk mempercepat pengendalian api dan mencegah kebakaran semakin meluas,” tegasnya.
Hingga kini, belum terdapat laporan korban jiwa akibat karhutla tersebut. Namun, BPBD bersama seluruh unsur terkait masih terus melakukan pemantauan dan penanganan di lokasi yang api masih aktif.
Di tengah ancaman kabut asap yang dapat meluas, BPBD Melawi mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan titik api, segera laporkan kepada BPBD, pemerintah desa, kecamatan, maupun pihak kepolisian agar dapat segera ditangani,” pungkas Rahmad.***
