Kanada Setuju Pangkas Tarif Barang Impor dari Indonesia

Nikel

TORONTO, borneoreview.co – Pemerintah Kanada setuju menghapus dan mengurangi tarif produk impor dari Indonesia. Membuka jalan ekspor Indonesia mencapai US$11,8 miliar di tahun 2030.

Kesepakatan itu muncul setelah Indonesia dan Kanada setuju mempercepat persiapan teknis implementasi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) akhir tahun 2026.

Pertemuan bilateral antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, dan Menteri Perdagangan Internasional Kanada, Maninder Sidhu menyepakati percepatan jadwal itu
di sela agenda Canada Investment Summit di Toronto.

Dialog tingkat tinggi ini menandai transisi kesepakatan dari tahap ratifikasi legislatif menuju pelaksanaan operasional.

ICA-CEPA menjadi kemitraan ekonomi komprehensif pertama Indonesia dengan negara ekonomi Amerika Utara. Sekaligus kesepakatan bilateral pertama Kanada dengan negara anggota ASEAN.

Bagi Kanada, Indonesia adalah jangkar kelembagaan dalam strategi Indo-Pasifik yang lebih luas. Sementara bagi Indonesia, kesepakatan ini membuka akses tarif preferensial ke pasar Amerika Utara yang bernilai tinggi.

Kerjasama ini sekaligus mengamankan modal dan keahlian teknis dari negara Barat untuk pengembangan fasilitas pemurnian mineral serta infrastruktur energi terbarukan di dalam negeri.

Penghapusan Tarif

Kanada menyepakati menghapus atau menurunkan tarif impor untuk lebih dari 90 persen produk Indonesia. Sementara Indonesia akan memberikan keringanan timbal balik untuk hampir 86 persen pos tarif produk impor dari Kanada.

Liberalisasi tarif ini diharapkan dapat mengakselerasi koridor perdagangan yang saat ini terus berkembang. Perdagangan dua arah antara kedua negara telah tumbuh dengan rata-rata 9,13 persen per tahun sejak 2021.

Total perdagangan bilateral mencapai US$3,1 miliar pada semester pertama tahun 2025, meningkat 13 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Para pejabat memperkirakan setelah perjanjian ini berlaku, ekspor Indonesia ke Kanada akan mencapai US$11,8 miliar pada tahun 2030. Peluang komersial prioritas fokus pada pengolahan mineral kritis—khususnya nikel dan komponen kimia baterai—serta energi bersih, pertanian dan perikanan berkelanjutan, infrastruktur publik, dan layanan keuangan digital.

Kedua menteri sepakat menangani hambatan regulasi dan teknis sebelum pemberlakuan penuh perjanjian tersebut. Hal ini untuk memastikan manfaatnya menjangkau tidak hanya konglomerat multinasional, tetapi juga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Prioritas bersama mencakup harmonisasi standar produk industri, penyelarasan tolok ukur ketenagakerjaan, dan keberlanjutan lingkungan. Juga penguatan jaringan logistik Indonesia guna menjaga efisiensi biaya ekspor.

Indonesia dan Kanada juga sedang menyusun program kerja sama teknis ekonomi yang terstruktur dan mempercepat dialog terarah mengenai integrasi mineral kritis.

“Pertemuan ini menegaskan komitmen bersama Indonesia dan Kanada untuk memastikan bahwa ICA-CEPA memberikan manfaat nyata bagi para pelaku usaha di kedua negara,” kata Airlangga.

Dalam kunjungan kerja Airlangga ke Toronto, hadir juga Duta Besar Indonesia untuk Kanada, Muhsin Syihab, dan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso.

Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional, Edi Prio Pambudi, dan Konsul Jenderal RI di Toronto, Vevie Damayanti ikut dalam rombongan.

Memobilisasi Modal Swasta Kawasan

Selain pertemuan antar pemerintah, Airlangga berbicara di hadapan para pemimpin perusahaan kawasan dalam acara “Executive Dialogue”. Rangkaian acara termasuk resepsi Canada-ASEAN Business Council (CABC), bersama Menteri Industri Kanada, Mélanie Joly.

Airlangga menyampaikan bahwa parlemen kedua negara telah merampungkan ratifikasi formal ICA-CEPA. Sehingga fokus kerja kini beralih pada penyelesaian aturan teknis mengenai ketentuan asal barang (rules of origin).

Dia mengajak para investor Amerika Utara untuk menanamkan modal pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI), inisiatif ketahanan pangan, dan aset transisi energi di Indonesia.

Delegasi Indonesia juga melakukan pertemuan bisnis terarah dengan perusahaan multinasional Kanada, termasuk CEO AtkinsRealis, Ian L. Edwards yang membahas kerja sama tenaga nuklir komersial.

Sedangkan pertemuan delegasi Indonesia dengan CEO Sun Life, Kevin D. Strain, memperdalam kemungkinan kolaborasi di sektor jasa keuangan domestik.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *