JAKARTA, borneoreview.co – Akuisisi saham PT Bayan Resource oleh bos tambang batu bara, Andi Syamsudin Arsyad, menjadi berita panas minggu ini. Nama Presiden Prabowo Subianto ikut disebut.
Langkah Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, menjadikannya salah satu pemain terbesar dalam industri batu bara global. Lewat perusahaanya PT Jhonlin Baratama, Haji Isam mengakuisisi 30 persen saham PT Bayan
Presiden Direktur Bayan Resources, Low Tuck Kwong, bersama putri bungsunya, Elaine Low menandatangani langsung akuisisi saham tersebut.
Perjanjiannya mencakup pengalihan 10.000.000.500 (sepuluh miliar lima ratus) saham reguler kepada pembeli, PT Jhonlin Baratama. Jumlah saham tersebut setara 30 persen dari total 33,33 miliar saham Bayan yang beredar.
Kabar Haji Isam akan menguasai saham PT Bayan sudah beredar sejak jauh-jauh hari. Rumor yang beredar, konglomeret Kalimantan itu menawar saham senilai US$ 3 miliar.
Tapi tawar menawar tidak berjalan mulus karena harga yang diajukan Haji Isam jauh di bawah nilai pasar wajar harga saham BYAN sebelumnya.
Kabar pembelian saham itu muncul setelah PT Bayan Resource mengalami kendala pengajuan izin penambahan kuota produksi tahun 2026.
Kuota produksi PT Bayan melalui 3 anak perusahaannya dipangkas oleh pemerintah awal tahun ini. Menyebabkan perusahaan menyatakan keadaan force majeure pekan lalu.
Para pesaing PT Bayan Resource, termasuk PT Bumi Resources dan PT Adaro Andalan, sebagian besar terhindar dari pemotongan produksi.
Pasca akuisisi, kedekatan Haji Isam dengan Presiden Prabowo Subianto sempat menjadi sorotan. Ia merupakan salah satu pendukung utama kampanye Presiden Prabowo Subianto tahun 2024.
Prabowo bahkan sempat mengunjungi Haji Isam di Tanah Bumbu, pada Maret 2024 setelah Pemilu. Presiden juga mengenalkan Haji Isam dan sejumlah pengusaha Kalimantan kepada investor Jepang di Istana Negara.
Haji Isam kini mengawasi proyek-proyek pemerintah berskala besar, termasuk proyek kawasan lumbung pangan (food estate) seluas satu juta hektare di Papua.
Konglomerasi milik Haji Isam, PT Jhonlin Group, sudah menjadi produsen utama batu bara termal. Perusahaan mengajukan kuota penambangan sebesar 60 juta ton tahun ini.
Dengan menggabungkan produksi batu bara PT Bayan sekitar 68 juta ton pada tahun lalu, total volume produksi yang dikuasai Haji Isam berada di atas raksasa industri Glencore Plc dan sedikit di bawah perusahaan tambang asal India dan Tiongkok.
Terlepas dari kabar miring soal kedekatan Haji Isam dengan Presiden, akuisisi saham PT Bayan Resource mendapat tanggapan positif dari lantai bursa. Saham BYAN melonjak hingga 20 persen di Bursa Efek Jakarta -kenaikan harian terbesar dalam sebulan— dan mencatatkan kenaikan mingguan sekitar 12 persen.***
