Penjualan Alat Berat Minus, Dampak Pengurangan Kuota RKAB Tambang

Alat berat tambang

JAKARTA, borneoreview.co – Dampak pengurangan kuota produksi dalam RKAB pertambangan 2026 mengganggu penjualan alat berat tambang. Penjualan berkurang sejak 8 bulan terakhir.

PT Pamapersada Nusantara (PAMA) misalnya, mulai mengurangi pembelian alat berat Komatsu sebagai dampak kebijakan RKAB pertambangan. Penjualan alat berat Komatsu UNTR selama 8 bulan terakhir turun 21 persen menjadi 2.689 unit.

Penurunan terutama terjadi pada jenis kendaraan besar sebesar 49 persen menjadi 436 unit. Padahal PT Pamapersada Nusantara adalah anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) yang notabene kontraktor pertambangan internal dalam grup.

PT Pamapersada menjalankan bisnis kontraktor pertambangan secara terintegrasi. Termasuk kegiatan pemindahan tanah atau overburden removal serta produksi batu bara.

Dengan adanya penyesuaian pembelian alat berat, perseroan menghadapi tekanan pada aktivitas operasional Pama. Hingga delapan bulan pertama tahun 2026, aktivitas yang berkaitan dengan overburden removal dan produksi batu bara turun 8 persen.

Direktur Keuangan United Tractors, Vilihati Surya mengatakan, kebijakan RKAB semula berdampak pada operator tambang batu bara. Kemudian menjalar ke distributor alat berat.

“Impact dari RKAB, customer-customernya di big machine sales, yang terutama di coal mining mengerem pembelian alat berat,” kata Vilihati.

Menurut Vilihati, perbedaan antara big machine dan small machine terutama terlihat dari nilai per unit. Nilai big machine dapat mencapai sekitar 15 kali lebih besar dari small machine.

Sehingga perubahan volume penjualan dalam jumlah unit yang relatif kecil tetap dapat memberikan dampak besar terhadap kontribusi bisnis. “Big machine itu secara value per unitnya bisa 15 kali lebih besar dibandingkan small machine. Bisa menjual satu atau dua unit saja, kontribusinya bagus sekali.”

Meski penjualan unit alat berat mengalami tekanan, UNTR masih memiliki sumber pendapatan lain dari bisnis alat berat, termasuk pendapatan dari parts dan service. Pendapatan dari menjual onderdil dan service relatif tumbuh 1 persen menjadi sekitar Rp5,5 triliun.

Menurut Vilihati, customer sektor tambang batu bara melakukan penyesuaian pembelian karena terdampak kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Selain menahan pembelian alat berat, PT Pamapersada Nusantara juga melakukan penyesuaian terhadap belanja modal untuk menghadapi kondisi tersebut. Perseroan melakukan pengurangan capex sekaligus meningkatkan efisiensi dan prioritas dalam penggunaan belanja modal.

SEbagai informasi, Kementerian ESDM memangkas target produksi batu bara dalam RKAB 2026. Produksi batu bara pada RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi tahu 2025 sebanyak 817,48 juta ton.

Untuk produksi biji nikel dalam RKAB periode 2026 dipatok pada rentang 260—270 juta ton. Angka ini mengalami penurunan signifikan dari target RKAB tahun sebelumnya yang mencapai 379 juta ton.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *