JAKARTA, borneoreview.co – Konsep pertanian perkotaan atau urban farming membuktikan bahwa keterbatas lahan bukan penghalang mewujudkan kemandirian pangan. Baru sebatas gaya hidup, belum menjadi kebutuhan.
Ide bertani di pekarangan sebenarnya bukan gaya hidup baru. Sejarahnya terentang mulai dari berkembangnya perkebunan-perkebunan kecil di Mesopotamia 3.500 tahun sebelum masehi.
Antara tahun 1880 hingga awal 1900-an, ketika kota seperti London, Paris, dan Stockholm dilanda kelaparan, ada kebijakan untuk membagikan lahan terbengkalai kepada keluarga-keluarga miskin.
Mengembangkan Relasi Manusia dan Alam, Demi Pertanian Berkelanjutan
Mereka mendapat jatah lahan yang berada di sekeliling kota untuk bercocok tanam. Tujuannya agar dapat memenuhi kebutuhan pangan mereka secara mandiri.
Perencana tata kota urban, Ebenezer Howard pernah menggagas gerakan “kota taman” (garden city). Dia mendorong keberadaan kebun atau lahan pertanian yang lebih luas dalam jarak tempuh jalan kaki dari pusat kota.
Arsitek berkebangsaan Amerika, Frank Lloyd Wright pada tahun 1930-an juga menawarkan konsep “Broadacre City” yang menganjurkan pemanfaatan lahan pertanian pada setiap kavling seluas satu ekar yang menyertai hunian warga.
Pertanian perkotaan menjadi strategi yang efektif untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan, kenaikan harga bahan pokok, serta penurunan kualitas lingkungan akibat minimnya ruang terbuka hijau.
Bengkayang Pertahankan Budaya Berladang Perkuat Ketahanan Pangan
Dengan memanfaatkan ruang terbatas seperti halaman, balkon, teras, bahkan atap bangunan, masyarakat perkotaan dapat menanam tanaman untuk konsumsi secara mandiri, berkelanjutan, dan hemat biaya.
Keterbatasan lahan yang menjadi ciri khas kawasan perkotaan justru dapat menjadi peluang menciptakan ruang produktif. Memanfaatkan halaman rumah maupun lahan-lahan yang terbengkalai.
Apalagi kini tersedia berbagai metode budidaya pertanian untuk menyiasati keterbatasan lahan. Seperti vertical farming (penanaman bertingkat), hidroponik (budidaya tanpa tanah), dan kebun atap (rooftop garden).
Mengenal Penyebab Emisi Gas Rumah Kaca, mulai Sektor Pertanian hingga Industri
Meskipun beberapa metode memerlukan listrik dan perawatan khusus, manfaat jangka panjangnya sangat signifikan, terutama di kawasan padat penduduk.
Metode hidroponik misalnya, efisien dan cocok untuk wilayah perkotaan. Tanaman seperti sawi, cabai, dan terong dapat dibudidayakan menggunakan media tanam polybag atau sistem tanam berbasis air.
Pertanian perkotaan tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan, tetapi juga membantu menekan biaya konsumsi rumah tangga. Di tengah harga sayuran yang relatif mahal di perkotaan, menanam bahan pangan sendiri bisa menjadi pilihan yang praktis dan ekonomis.
Jika dikelola dengan serius hasil panen yang berlebih dapat dijual untuk menambah penghasilan. Secara ekonomi jelas sangat menguntungkan.
Tapi pertanian perkotaan bukan tanpa tantangan. Salah satu hambatan terbesar adalah terbatasnya sinar matahari akibat padatnya kawasan perkotaan.
Beberapa tanaman membutuhkan sinar matahari langsung untuk tumbuh optimal, sehingga penempatannya di ruang terbuka menjadi hal yang krusial.
Keberhasilan pertanian perkotaan juga sangat bergantung pada kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat. Inisiatif ini harus dimulai dari tingkat rumah tangga yang menjadi unit terkecil dalam sistem pangan nasional.
Kisah Petani Muda di Nusa Tenggara Timor, Sukses Biayai Sekolah dari Pertanian
Sayang hingga kini belum terlihat ada upaya serius untuk mengembangkan pertanian urban. Baru sebatas gerakan sporadis di kalangan masyarakat yang terbatas.
Pertanian hidroponik yang digagas pemerintah daerah, kebanyakan juga berupa ‘proyekan’ dinas tertentu yang tujuannya hanya untuk menggaet anggaran. Mirip program apotik hidup yang pernah gencar pada masa Orde Baru, tapi tak ada bekasnya hingga hari ini.
Akhirnya praktik pertanian urban hanya jadi semacam gimik masyarakat perkotaan. Gaya hidup yang bertujuan menyuapi kegenitan sosial.
