Senja Memerah di Atas Luka Pulau Timah Bangka Belitung

PT Timah Tbk TINS

BANGKA BELITUNG, borneoreview.co – Hujan baru saja lewat di pesisir Bangka Belitung, menyisakan aroma tanah basah bercampur logam.

Seorang lelaki paruh baya dengan tangan kapalan menatap kosong lubang galian di depan gubuknya.

Ratusan karung pasir timah basah teronggok, tak lagi bisa ia selundupkan malam ini.

Suara sepatu bot bersol baja mendekat. Bukan lagi preman berbadan kekar penagih setoran, kali ini rompi oranye bertuliskan “Satgas Minerba” berdiri tegap di ambang pintunya.

“Seribu lubang akan ditutup. Seribu cerita akan tamat,” gumamnya lirih, menirukan pengumuman yang ia dengar dari radio tua bertenaga aki tiga hari lalu. Matanya meredup.

Di kejauhan, deru ekskavator PT Timah Tbk (TINS) mulai meraung lebih keras, seolah merayakan kemenangan yang tertunda.

Di ruang rapat berlapis kaca di Jakarta, deretan jas mahal dan dasi sutra tersenyum lebar di depan layar monitor yang berpijar.

Grafik melesat ke atas, nyaris vertikal, bak tiang layar kapal keruk yang siap menangguk laba.

Di sana, angka-angka itu bicara lebih lantang ketimbang rintihan para penambang liar.

Pendapatan semester pertama 2026 melonjak 147 persen menjadi Rp10,42 triliun. Laba bersih melejit 805 persen, meroket dari Rp300 miliar menjadi Rp2,71 triliun.

Angka fantastis yang melampaui 169 persen target tahunan. Sebuah pesta di tengah duka.

Dua Dunia, Satu Logam

Revolusi ini juga tak lahir dari perut bumi, melainkan dari tinta tajam sebuah kebijakan.

Pemerintahan Prabowo Subianto, dengan otot politik yang menegang, membidik 1.000 tambang ilegal untuk dibungkam.

Selama ini, 80 persen produksi timah di negeri seribu pulau itu mengalir di nadi gelap rantai pasok informal.

Sekitar 12.000 ton timah lenyap setiap tahun, menguap ke pasar gelap internasional, tak tersentuh pajak, tak tercatat sebagai devisa.

Penertiban adalah katalis, racun bagi penambang liar sekaligus madu bagi korporasi plat merah.

Ketika sekop-sekop liar berhenti mengais, pasokan bijih yang tersesat itu perlahan kembali ke jalur resmi.

Manajemen PT Timah Tbk (TINS) yang dulu merintih tercekik kompetisi ilegal, kini bernapas lega.

Di semester pertama 2025, produksi bijih timah PT Timah Tbk (TINS) ambles 32 persen, hanya menyentuh 6.997 ton. Kini, tabir kelam itu tersibak.

Semester pertama 2026, produksi melesat 75 persen menjadi 12.232 ton Sn. Logam timah yang berhasil dijual menyentuh 10.984 metrik ton, naik 85 persen. Efek domino yang membahagiakan para pemilik modal.

Pasar menyambut gemilang. Jika Agustus 2025 kapitalisasi pasar TINS masih tertidur di kisaran Rp7,6 triliun, setahun kemudian ia melompat perkasa ke Rp28,75 triliun.

Sebuah kebangkitan dicatat tinta emas di Bursa Efek Indonesia, bersamaan dengan tetesan keringat dan air mata di lubang-lubang tanah diratakan paksa.

Madu di Ujung Grafik

Di kedai kopi pengap dekat Pelabuhan Pangkalbalam, Hans Kwee, Co-Founder Pasar Dana, menyeruput kopi hitamnya sambil mengetuk layar ponsel.

Matanya berbinar. “Valuasi masih sangat murah,” bisiknya seolah berbagi rahasia besar.

Dengan price to earnings ratio (PER) 4,49 kali, ia menyebut TINS bak permata yang belum diasah.

Margin laba bersih 26 persen dan return on equity (ROE) 51 persen adalah sihir yang jarang terlihat di lantai bursa yang skeptis.

Ia membubuhkan rekomendasi “Beli” dengan target harga Rp4.700 hingga Rp5.000 per saham.

Namun, ada ironi yang menusuk. Di saat harga timah dunia melonjak 56,7 persen, menembus rata-rata US$50.319 per metrik ton di London Metal Exchange, di situlah peradaban digital berpesta pora.

Lonjakan harga dikerek oleh kebutuhan semikonduktor dan dahaga kecerdasan buatan atau AI.

Cip-cip mutakhir menggerakkan robot dan algoritma dibangun di atas fondasi logam ditambang oleh tangan-tangan miskin. Kini, tangan-tangan miskin itu diganti mesin-mesin modern berlogo negara.

Luka dan Logam

Senja semakin memerah di Bangka. Laut di kejauhan tak lagi biru, keruh oleh limbah tailing.

Lelaki paruh baya itu masih duduk di depan gubuk, menyaksikan alat berat meratakan tanah yang telah ia akrabi selama dua dekade.

Tak ada lagi cerita tentang anaknya yang bisa kuliah dari sekilo timah curian, atau tentang tetangga bisa berobat dari sekarung pasir sisa ayakan.
Semua kembali ke nol, kembali ke jalur yang sah. Ia tak mengerti statistik, ia hanya tahu perutnya akan lebih sering keroncongan.

Di Jakarta, pentasnya berbeda. Lampu-lampu kristal di ballroom hotel mewah menyala terang.

Tepuk tangan membahana saat board of director mengumumkan kinerja semester pertama itu.

Restrukturisasi pasokan sukses, kinerja moncer. Ratusan kilometer dari sana, di sebuah gubuk reyot, lelaki paruh baya itu menutup pintu bambunya rapat-rapat.

Dunia mereka adalah dua sisi dari keping logam sama satu merayakan keuntungan, satu lagi berkabung atas kedaulatan perutnya.

Kebijakan telah menertibkan, data telah membuktikan, tapi langit Bangka malam itu berwarna kelabu, lebih gelap dari warna timah selama ini ia cari.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *