JAKARTA, borneoreview.co – Tesla Roadster ‘Rocket Version’ yang menggunakan baterai Lithium-ion berbasis nikel, mewujudkan mimpi Elon Musk menciptakan mobil terbang.
Malam itu di fasilitas pengujian roket SpaceX di McGregor, Texas, Amerika Serikat, Tesla Roadster ‘Rocket Version’ berhasil mabur di udara.
Mobil single-seat yang dilengkapi 10 nosel pendorong cold-gas thrusters itu mendaki trek curam, melompat, berputar dan menutup atraksi dengan hovering (melayang).
Visi ini yang tampaknya dibaca Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (saat itu) Luhut Binsar Panjaitan.
Tahun 2022, Luhut beberapa kali menemui CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk di Texas. Dia melobi agar mobil listrik Tesla menggunakan baterai Lithium-ion yang bahan nikel-nya digali dari tambang di Indonesia.
Teknologi Baterai Berubah
Ternyata, 4 tahun kemudian perkembangan teknologi baterai kendaraan litrik melampaui bayangan Luhut Binsar Panjaitan.
Baterai Lithium-ion berbasis nikel memang masih dipakai sebagai komponen kendaraan listrik. Tapi khusus untuk mobil kelas menengah ke atas.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri kendaraan listrik semakin banyak menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP). Baterai ini tidak memakai nikel sebagai bahan baku utama.
Baterai LFP memiliki keunggulan dari sisi biaya produksi (lebih murah), keamanan, dan ketahanan siklus pemakaian.
Karakteristik tersebut membuat teknologi ini semakin menarik bagi produsen kendaraan listrik. Terutama untuk kendaraan dengan harga lebih terjangkau.
Baterai berbasis nikel seperti NMC (nickel manganese cobalt) dan NCA (nickel cobalt aluminium) tetap memiliki keunggulan dalam hal kepadatan energi.
Teknologi ini masih dipakai untuk kendaraan yang mengutamakan jarak tempuh dan performa tinggi. Jumlah produksinya jadi lebih terbatas.
Perubahan komposisi teknologi baterai mengurangi intensitas penggunaan nikel per kendaraan listrik. Akibatnya, proyeksi permintaan nikel untuk industri kendaraan listrik tidak seperti bayangan tahun 2022.
Persoalan ini menjadi penting bagi Indonesia yang melakukan ekspansi gila-gilaan pada industri pengolahan nikel. Harapannya pertumbuhan kendaraan listrik akan menyerap produksi nasional.
Jika permintaan nikel untuk baterai tumbuh lebih lambat dari perkiraan, sementara kapasitas produksi terus meningkat, akan terjadi kelebihan pasokan biji nikel.
Pembatasan Produksi Nikel
Menurut Bahlil, kelebihan pasokan nikel mencapai hampir 800.000 ton. Sementara permintaan tahunan dunia hanya berada di kisaran 3,5 juta ton.
Situasi itu menekan harga nikel hingga sekitar US$15.400 per ton pada 2 November 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, mengeluarkan jurus andalan: memangkas RKAB nikel untuk mengendalikan pasokan dan permintaan global.
Menurut Bahlil, jurus ini berhasil mengendalikan pasokan batu bara pada 2026.
Kebijakan penyesuaian RKAB batu bara disebut mampu mendorong harga batu bara kalori 6.333 mencapai US$154 per ton.
Pemerintah berharap pemangkasan produksi biji nikel dapat mengurangi kelebihan pasokan, memperbaiki harga, dan meningkatkan penerimaan negara.
Namun, pendekatan tersebut menyisakan pertanyaan mendasar: apakah kelebihan pasokan nikel benar-benar hanya disebabkan oleh produksi biji yang berlebihan?
Nikel Bukan Batu Bara
Keberhasilan mengendalikan jumlah pasokan batu bara menjadi dasar pemerintah menerapkan strategi serupa pada nikel. Namun, kedua komoditas tersebut memiliki karakteristik pasar yang berbeda.
Batu bara merupakan komoditas energi yang permintaannya terutama ditopang pembangkit listrik dan industri. Ketika pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi harga bisa naik.
Sementara nikel memiliki rantai industri yang lebih kompleks. Biji nikel tidak hanya diperdagangkan sebagai bahan mentah.
Tetapi juga diolah menjadi berbagai produk antara dan produk hilir untuk industri baja tahan karat dan terutama baterai kendaraan listrik.
Karena itu, kelebihan pasokan tidak semata-mata akibat produksi biji nikel yang berlimpah.
Kecepatan smelter memproduksi bahan setengah jadi juga berkontribusi meningkatkan produksi nikel. Sementara permintaan produk smelter tidak sebesar jumlah produksinya.
Dengan demikian, keberhasilan pengendalian RKAB batu bara belum tentu dapat direplikasi pada nikel.
Pemangkasan kuota biji nikel yang terlalu besar bahkan berpotensi menimbulkan persoalan baru berupa kekurangan bahan baku bagi smelter yang sedang beroperasi.
Tak Cukup Pangkas Produksi
Pemangkasan RKAB memang dapat menjadi instrumen mengurangi pasokan biji nikel. Namun, kebijakan tersebut perlu disertai penataan kapasitas pengolahan.
Jika pemerintah hanya mengurangi kuota produksi biji tanpa mengevaluasi kapasitas smelter, risiko kekurangan bahan baku dapat meningkat.
Smelter yang telah berinvestasi besar membutuhkan pasokan biji nikel yang memadai agar dapat beroperasi secara ekonomis.
Di sisi lain, mempertahankan seluruh kapasitas produksi yang telah dibangun juga bukan pilihan tanpa risiko.
Jika kapasitas pengolahan terus bertambah, sementara permintaan produk akhirnya tidak tumbuh secepat itu, kelebihan pasokan dapat semakin menekan harga.
Penataan Produksi Tambang
Pemerintah perlu membedakan antara kapasitas produksi yang benar-benar dibutuhkan pasar dengan kapasitas yang berpotensi menghasilkan produk berlebih.
Penataan ekspansi smelter, pengembangan produk hilir bernilai tambah, serta sinkronisasi produksi dengan permintaan akhir menjadi bagian penting dari strategi tersebut.
Pemerintah punya alasan untuk menata produksi nikel demi menjaga keseimbangan pasar. Namun, kebijakan tersebut tidak seharusnya hanya berorientasi pada kenaikan harga komoditas dalam jangka pendek.
Kelebihan pasokan nikel dunia merupakan hasil interaksi antara ekspansi produksi, pertumbuhan kapasitas pengolahan, perubahan teknologi baterai, dan dinamika permintaan global.
Karena itu, strategi yang lebih berkelanjutan harus mencakup penataan produksi tambang, evaluasi kapasitas smelter, pengembangan produk hilir, serta penyesuaian investasi dengan kebutuhan pasar.
Pemerintah juga perlu membaca arah perubahan teknologi baterai dalam menyusun proyeksi permintaan nikel. Tanpa penyesuaian tersebut, Indonesia berisiko mempertahankan kapasitas produksi yang terlalu besar untuk pasar yang tidak lagi tumbuh sesuai perkiraan.
Pada akhirnya, pemangkasan RKAB nikel dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengendalikan pasokan. Tetapi bukan solusi tunggal bagi kelebihan pasokan global.***
