MARYLAND, borneoreview.co – Ahli ekologi mengungkapkan anomali mendeteksi kebakaran hutan dan lahan, karhutla menggunakan citra satelit. Pengamatan kebakaran sangat dipengaruhi oleh kepekatan kabut asap.
Indonesia mengandalkan pengamatan dari satelit NASA dan NOAA untuk memantau titik panas aktif. MODIS dan VIIRS adalah beberapa instrumen utama satelit yang digunakan untuk memantau titik panas karhutla.
Kementerian Kehutanan mengoperasikan platform pemantauan kebakaran SiPongi yang menggunakan data MODIS dan VIIRS. Tapi kebakaran paling parah justru sulit terdeteksi dari pengamatan luar angkasa.
Desak Penindakan Perusahaan Sebabkan Karhutla, WALHI Kalbar: Masih Jauh dari Perkiraan
Pemantauan satelit memiliki keterbatasan penting. MODIS dan VIIRS terkadang kesulitan mendeteksi kebakaran yang tertutup asap tebal atau awan, kebakaran di bawah tajuk hutan, atau bara yang meyala di bawah lapisan gambut.
Faktanya, ketika kebakaran di Indonesia menjadi sangat hebat, jumlah titik panas yang terdeteksi oleh MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun karena asap tebal menghalangi pandangan satelit.
“Secara paradoks, peristiwa kebakaran dengan asap paling pekat justru bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS,” kata Mark Cochrane, seorang ahli ekologi di University of Maryland Center for Environmental Science.
Mark Cochrane telah melakukan penelitian lapangan kebakaran di lahan gambut Indonesia selama hampir satu dekade. Kebakaran lahan gambut tropis termasuk salah satu jenis kebakaran paling berbahaya dan sulit dipadamkan.
Karhutla Kalimantan: Hilangnya Rumah Orangutan dan Satwa Liar
Alih-alih merambat cepat melintasi pepohonan dan vegetasi, api membara perlahan di dalam tanah lahan basah yang mengering dan lapisan gambut yang tebal. Sering kali api menjalar di bawah permukaan tanah pada suhu yang relatif rendah. Kebakaran jenis ini sangat sulit dipadamkan dan menghasilkan polusi luar biasa.
Kebakaran lahan gambut menghasilkan partikulat halus tiga kali lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis. Serta menghasilkan lima kali lipat lebih banyak sulfur dioksida, tiga kali lebih banyak karbon organik, dan dua kali lipat jumlah metana serta karbon monoksida.
Kebakaran lahan gambut merupakan masalah yang berulang di Indonesia. Luas lahan gambut mencapai 36 persen dari total lahan gambut tropis dunia.
Saat terjadi kemarau panjang, kawasan yang biasanya basah dapat mengering hingga memungkinkan kebakaran. Selama tiga dekade terakhir, kondisi seperti ini berulang kali memicu kebakaran hebat yang berlangsung lama, menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu.
El Niño Memperparah Musim Kemarau
Beberapa musim kebakaran paling parah dalam beberapa dekade terakhir terjadi saat fenomena El Niño berlangsung. Khususnya tahun 1997 dan 2015.
NOAA menyatakan bahwa El Niño sedang berlangsung dan menguat selama Agustus 2026. Pola iklim ini umumnya mengurangi curah hujan di seluruh wilayah Indonesia.
Kondisi kering ini dapat menjadi jauh lebih ekstrem ketika El Niño terjadi bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), yang juga sedang berlangsung saat ini.
Pemkab Melawi Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla hingga Desa
“Indonesia baru memasuki minggu ketiga musim kebakaran, namun kami melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan kondisi tahun 2015,” kata Robert Field, peneliti dari Universitas Columbia yang mengembangkan “Global Fire Weather Database”, perangkat yang menghasilkan prakiraan cuaca terkait risiko kebakaran secara real-time dan bersifat eksperimental.
“El Niño yang kuat ini membuat musim kemarau menjadi lebih kering di wilayah-wilayah yang rawan kebakaran dan memperparah kebakaran hutan dan lahan —persis seperti yang telah kami perkirakan,” ungkapnya.
Perbandingan tingkat kebakaran tahun 2015 sangat signifikan. Setelah kebakaran berlangsung selama lebih dari 3 bulan pada tahun tersebut, kebakaran di Indonesia menyebabkan emisi setara 1,75 miliar ton gas rumah kaca.
Per tanggal 2 September, kebakaran tahun 2026 telah berlangsung selama sekitar satu bulan dan tercatat telah melepaskan sekitar 10 persen dari total emisi yang dihasilkan pada krisis kebakaran hutan tahun 2015.
Kebakaran Gambut
Indonesia juga mengalami kekeringan parah dan meluas selama musim kemarau tahun 2026, serupa dengan kondisi tahun 2015. Data dari badan meteorologi Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 90 persen wilayah negara tersebut hanya menerima sedikit curah hujan pada awal Agustus.
Dalam kondisi normal, lapisan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah sehingga api tidak dapat merambat di bawah tanah.
Kekeringan mengubah kondisi tersebut secara drastis, memungkinkan api masuk ke dalam lapisan gambut dan terus membara di bawah permukaan.
WALHI Pantau 1.316 Titik Panas di Kawasan Gambut di Kalbar
“Kebakaran permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, namun ketika api merambat ke bawah tanah, api tersebut sulit sekali dipadamkan,” ujar Robert Field. “Api akan terus membara hingga hujan turun pada bulan Oktober atau November.”
Menurut Mark Cochrane, ahli ekologi University of Maryland Center for Environmental Science, pembangunan kanal irigasi dan pengeringan rawa gambut secara besar-besaran tahun 1990an -sebagian dilakukan untuk menciptakan lahan persawahan luas— telah menurunkan permukaan air tanah di kawasan lahan basah dan membuat lanskap tersebut lebih mudah terbakar.
Perkebunan kelapa sawit dan jenis perkebunan kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut. Menyusul musim kebakaran yang luar biasa parah pada tahun 2015, pemerintah dan berbagai organisasi berupaya memulihkan sebagian kerusakan tersebut.
Drama di Kebun Benih Sawit: Ketika Klaim Kepatuhan Tersandung Selisih Data
Berbagai proyek yang dijalankan mencakup penutupan saluran irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah, penguatan kemampuan pemadaman kebakaran, serta peningkatan upaya pencegahan kebakaran yang dipicu oleh aktivitas manusia secara tidak sengaja.
“Tahun ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi langkah-langkah yang diterapkan setelah tahun 2015,” ujar Shi Jun Wee, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Maryland.
Wee adalah anggota tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode yang lebih baik dalam mendeteksi kebakaran di lapisan bawah hutan. Pendekatan mereka memanfaatkan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.
Seiring berlanjutnya musim kebakaran tahun 2026, Wee berencana memantau kondisi di lapangan menggunakan peramban data Worldview milik NASA, FIRMS (Fire Information for Resource Management System), data pengamatan HLS (Harmonized Landsat and Sentinel-2), dan GFED (Global Fire Emissions Database).
